Setelah mendengar omongan Pak Is, seperti yang ditulis pada edisi lalu, saya mencoba mengorek keterangan pada kalangan pemuda sekitar lokalisasi. Senada dengan apa yg dikatakan pak is tadi, disini ini yang diuntungkan sebenarnya bukan warga sekitar lokalisasi. Tapi kebanyakan orang luar kota yang migarn ke sini, coba mas nanti lihat di kawasan Dolly. Kebanyakan calo-calo itu orang luar daerah, tapi lagaknya kayak warga sini dan sok preman lagi. Padahal kalau ada kejadian itu yang dapat jelek kita warga sekitar komplek. Lagian kita kalau ada acara HUT RI agustusan, belum tentu para germo itu menyumbang kami, papar Agus warga Putat Jaya yang rumah diluar lokalisasi.
Penasaran dengan cerita Agus, saya pun melenggang ke lokalisasi terbesar sekawasan Asia Tenggara. Kesan hinggar binggar terlihat dari jauh. Karena lampu warna warni menyala penuh semarak, lalulalang mobil dan sepeda motor padat merayap. Hal itu dikarenakan para calo yang menawarkan para gadis yang duduk berjajar di sofa. Calo tersebut dengan enaknya menghentikan mobil sambil berkata “ ayo ko disini ceweknya segar-segar dan cantik. Mari parkir disitu lho dekat dan aman, dijamin tidak kecewa atas pelayanan cewek disini” kata sang calo merayu.
Apa yang dikatakan para calo memang sangat benar adanya, para gadis muda yang masih segar terlihat bak ikan dalam akuarium. Sebab gadis-gadis Dolly memang pilihan, selain berusia belasan tahun, merekapun cantik dan manis semua. Apalagi servies mereka rata-rata pintar karaoke. Tak heran bila ada yang mengatakan Dolly itu sorganya dunia. Menurut sumber disitu, harga para gadis itu bervariasi, mulai dari harga 80 ribu rupiah hingga ratusan ribu. Tergantung wisma mana yang akan dituju. Barbara dan Madona group memasang tariff 150 ribu ke atas.
Bahkan yang paling istimewa, anak dibawah umur sering disajikan di Dolly, walau tidak sedikit yang tertangkap dan dikenakan pasal perdagangan anak di bawah umur. Sungguh sangat indah dan menarik pemandangan disini, seakan sorga dunia yang tak lekang oleh waktu. Tentunya sorga bagi para penjahat kelamin dan peselingkuh.
Saat saya menanyakan pada aparat Birokrasi yang berwenang dikawasan ini mengenai jumlah pekerja seks komersil dilokalisasi, dijawab saat ini berkisar 1300 PSK untuk wilayah Dolly dan Jarak. Dimasa lalu sekitar 5 tahun sudah berselang, PSK disini sekitar 5 ribu orang. Melalui pendekatan kekeluargaan dan tindakan represif kini berkurang banyak. Pendekatan pengentasan PSK dengan acara memberi pembinaan dan pelatihan. Kalau represifnya saat ada pelanggaran tata tertib diberikan sangsi penutupan wisma.(bersambung)Foto: Ilustrasi
Editor : Pak RW