Jombang, Suara Publik.com - Masih saja ditemui paket pekerjaan yang entah apa namanya, bercokol dipanggung saluran irigasi. Secara kasat mata, paket tersebut bisa ditafsirkan bentuk kegiatan rehabilitasi saluran sekunder. Lokasi pekerjaan berada di desa Manunggal, kecamatan Ngusikan.
Benarkah itu paket rehabilitasi? Kalau misalnya benar rehabilitasi saluran, lalu berapa pagu yang disiapkan. Berapa besar volume, kualifikasi dan spesifikasi, serta harga satuan pekerjaan.
Bersumber darimanakah asal anggaran. Siapakah pelaku pekerjaan. Sudah sesuaikah dengan metode yang ditetapkan Perpres 16/2018 maupun Permen PUPR 14/2020.
Dan seterusnya, dan seterusnya, tapi hasilnya tetap saja buram. Tentu ini hanya tafsir sepihak yang mungkin saja si empu pekerjaan berkehendak seperti itu. Yakni berharap publik hanya bisa menduga-menduga. Dengan tujuan menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Entah apa motif atau untung yang hendak diraih. Kalau pun tidak begitu, dan kalau pun bukan karena alasan itu, lalu kenapa susah banget memasang papan informasi proyek?
Seorang sumber menyebut proyek tersebut layak diuji kekuatannya. Dia mencium bau akting bertabur lip service didalamnya. Dia menduga material batu yang dipasang tidak benar benar baru, tapi merupakan pasangan lawas yang diberi sentuhan semen sehingga nampak sebagai pekerjaan baru.
Itu bisa dilihat, katanya, dari tidak adanya ceceran bekas material batu dilokasi. Dari sisi anggaran, lanjutnya, diprediksi proyek ini hanya perlu semen dan bayar ongkos pekerja saja. Benarkah demikian?
Pada laman Sirup LKPP 2020, paket ini dipastikan tidak muncul pada daftar swakelola tipe 1 maupun paket dengan penyedia, yang dirilis Dinas PUPR Jombang.
Begitu pun pada kelompok tender, paket ini dipastikan tidak muncul di laman LPSE. Apakah paket ini sengaja dikerjakan terlebih dulu untuk kemudian dibuatkan SPJ revisi?
Kepala Bidang Peningkatan Sumber Daya Air Dinas PUPR Jombang, Bustomi, saat dikonfirmasi diuang kerjanya, Senin (28/9), menegaskan bahwa paket tersebut bukan milik Dinas PUPR Jombang, tapi diduga milik HIPPA. "Saya pastikan itu bukan paket dari kita (Dinas PUPR). Semua paket kita pakai cor, bukan pasangan batu lagi, "ujarnya.
Sampai berita ini ditulis, pihak HIPPA desa Manunggal belum berhasil dikonfirmasi. (Din)
Editor : Redaksi