Jombang, Suara Publik.com - Meresahkan. Mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan situasi batin sejumlah pejabat dilingkungan OPD ((Organisasi Perangkat Daerah) Pemkab Jombang, pada dua tahun terakhir.
Resah, karena sejumlah pejabat mengaku tidak kuasa menolak sikap sok kuasa tokoh yang satu ini meski sebenarnya batin berontak. Kadang, kekuasaan memang menghadirkan sisi tirani.
Dan hebatnya, si tokoh yang satu ini seperti paham betul akan jangkaun psikologis serta cengkraman filosofis tangan kekuasaan, yang dia memang ada didalamnya.
Ibarat lokomotif kereta, dia tahu pengendara lain harus berhenti untuk memberi jalan saat dia melintasi rel kereta. Begitu kuat hegemoni dia, hingga dijuluki "Bupati Anyaran".
Seorang sumber menyebut sepak terjang si bupati anyaran dilingkungan dinas dan lembaga turunannya sudah masuk level meresahkan.
Kepiawaian memainkan palu godam, membuat sepak terjangnya yang tidak lebih sekedar misi pribadi itu menjadi tidak kentara.
Semua nampak wajar, semua nampak normal, setidaknya dimata Bupati Jombang, prilaku bupati anyaran yang terbilang meresahkan jajarannya itu tidak pernah ada penyikapan.
Masih menurut sumber yang sama, sang bupati anyaran adalah pemain anggaran. Dia tahu betul diposisi mana dia harus memenangkan pertarungan. OPD pun dibuat terkekang. Hingga saatnya tiba, kata sumber, sejumlah OPD terpaksa setor kewajiban dalam bentuk sejumlah paket pengadaan barang dan jasa.
Tidak hanya OPD, tapi lembaga turunan yang menjadi muara anggaran juga jadi sasaran. Diantara sejumlah OPD yang ada dilingkup Pemkab Jombang, tambah sumber, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan paling sering jadi perahan.
Tapi tidak berarti OPD lain bisa seenaknya hengkang. Praktik ini tak kunjung lekang tapi kian memanggang.
Modus yang diperankan kadang serupa pahlawan, sebut sumber, walau sejatinya adalah siluman penghisap darah bertaring tajam. Siapakah si "Bupati Anyaran" sebenarnya? (Din)
Editor : Redaksi