Bahaya Demam Berdarah Dengue di Musim Hujan

suara-publik.com
Foto atas: Ilustrasi Nyamuk Aedes aegypti. Foto bawah: Penulis Artikel

“Pada musim hujan, populasi nyamuk Aedes aegypti yang merupakan penyebab demam berdarah akan meningkat karena telur yang belum menetas akan menetas saat habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan. Saat populasi nyamuk meningkat, maka ini juga akan menyebabkan peningkatan penularan penyakit demam berdarah dengue.”

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akibat virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini sempat dikenal juga dengan sebutan penyakit “break-bone”, karena gejalanya kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot, seperti tulang yang terasa retak. DBD hanya dapat menular melalui gigitan nyamuk, tepatnya nyamuk betina yang dapat mentransmisikan virus DBD.

Nyamuk tersebut biasanya menyerang pada siang dan sore hari, baik di dalam maupun luar rumah. Nyamuk ini akan berkembang biak di air yang tergenang dan cukup jarang terbang jauh lebih dari 200 meter dari sarangnya. Itulah sebabnya penting untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dan sekitarnya, serta memastikan tidak ada air tergenang yang bisa menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.

WHO juga menyebutkan bahwa kejadian demam berdarah telah meningkat 30 kali lipat selama 50 tahun terakhir. Dari sekitar 2,5 miliar orang yang berisiko terkena demam berdarah secara global, sekitar 70 persen di antaranya tinggal di negara-negara Asia Pasifik.

Kondisi iklim, lingkungan yang kotor, pemukiman perkotaan yang tidak terencana, dan urbanisasi yang cepat dapat menyebabkan peningkatan perkembangbiakan nyamuk, terutama di daerah perkotaan dan semi perkotaan.

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sebenarnya fluktuatif, tetapi saat musim hujan, kejadian penyakit demam berdarah dengue (DBD) umumnya akan meningkat. Pada musim hujan populasi Aedes aegypti akan meningkat karena telur yang belum menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan. Alhasil, ini bisa meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit demam berdarah dengue.

Selain itu, kelangsungan hidup nyamuk Aedes aegypti akan lebih lama bila tingkat kelembapan tinggi selama musim hujan, sehingga masyarakat harus lebih waspada pada saat memasuki musim hujan.

*Cara mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD)*

1. Menguras Tempat Penampungan Air

Bagi kamu yang masih menggunakan bak mandi, disarankan untuk mengurasnya secara berkala, minimal sekali dalam seminggu. Tujuannya adalah memutus siklus hidup nyamuk yang hanya berumur 2–3 bulan, terhitung dari telur hingga dewasa dan mati. Telur nyamuk Aedes aegypti dapat menetas dua hari setelah menyentuh air.

2. Tutup Rapat Tempat Penampungan Air

Bak mandi atau tempat penampungan air lainnya disarankan untuk ditutup, terutama yang berukuran kecil, seperti ember, baskom, atau gentong. Tujuannya agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak di dalamnya. Jangan lupa juga untuk mengurasnya secara berkala, ya, setidaknya dua kali dalam seminggu. Jika sudah tidak digunakan, sebaiknya simpan dalam keadaan terbalik agar tidak menjadi sarang nyamuk.

3. Mengubur Barang Bekas

Barang bekas yang menumpuk dan lama tidak digunakan bisa menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu, jangan biarkan barang bekas yang tidak digunakan menumpuk begitu saja. Sebaiknya kamu mengubur atau mendaur ulangnya untuk kebutuhan lain.

4. Gunakan Obat Nyamuk

Permetrin dapat diterapkan pada pakaian, sepatu, perlengkapan berkemah, dan kelambu di rumah. Kamu juga dapat membeli pakaian yang dibuat dengan permetrin yang sudah ada di dalamnya. Sementara untuk kulit, gunakan lotion yang mengandung setidaknya 10 persen konsentrasi DEET.

*Pengobatan untuk Pengidap Demam Berdarah Dengue (DBD)*

Saat mengalami gejala-gejala yang menyerupai penyakit ini, sebaiknya segera temui dokter untuk mendapatkan pemeriksaan. Secara umum, demam berdarah ditandai dengan gejala ringan dan akan muncul pada 4–7 hari setelah gigitan nyamuk. Gejala penyakit ini biasanya menyerupai flu, tetapi bisa berkembang dan menjadi semakin parah jika tidak ditangani.

Penyakit ini bisa ditandai dengan gejala demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, nyeri kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi, otot, dan tulang. Demam berdarah juga menyebabkan penurunan nafsu makan, mual dan muntah, muncul mual kemerahan, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga perdarahan yang keluar dari hidung, gusi, dan bawah kulit. 

pengobatan pasti untuk penyakit ini belum diketahui. Namun, langkah pengobatan perlu dilakukan untuk mengatasi gejala yang muncul dan mencegah infeksi semakin parah. Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter dan mendapatkan diagnosis, dokter biasanya akan menilai apakah pengidap harus mendapat perawatan di rumah sakit atau cukup perawatan mandiri di rumah. 

Pada kondisi yang ringan, dokter mungkin tidak akan menyarankan perawatan di rumah sakit. Namun, pastikan pengidap demam berdarah mendapatkan perawatan berikut: 

1. Cukup minum air putih untuk mencegah dehidrasi. 

2. Istirahat yang banyak. 

3. Mengonsumsi obat penurun panas yang diberikan dokter.

4. Selalu pantau frekuensi buang air kecil dan jumlah urine yang keluar.

Referensi :

https:https://www.halodoc.com/artikel/kapan-pengidap-demam-berdarah-perlu-menemui-dokter

https:https://www.halodoc.com/artikel/menjaga-kebersihan-lingkungan-bisa-cegah-demam-berdarah

https://scholar.google.co.id/scholar?q=jurnal,+dbd&hl=id&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart

https:https://www.halodoc.com/artikel/waspada-ini-penyebab-demam-berdarah-dengue-terjadi-di-musim-hujan

 

Penulis : Aditya Sofia Syarif.

 100%

Mahasiswa dari Akper Hermina Manggala Husada

Editor : Redaksi

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru