Sarat Penyimpangan, Proyek Pembangunan Drainase Balongmojo Gunakan Batu Gamping

suara-publik.com

GRESIK, (suarapublik.com) - Sudah saatnya masyarakat Jawa Timur, khususnya warga Kabupaten Gresik wajib turut serta berpartisipasi dalam memantau sejumlah proyek di wilayahnya. Pasalnya, bila masyarakat tidak peka maka yang terjadi pelaksanaan pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan aturannya alias menyimpang. 

Seperti halnya, pekerjaan pembangunan drainase di Dusun Balongmojo Kulon, Desa Balongmojo, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik disinyalir menyimpang. 

Paket pekerjaan yang di danai dari DD (Dana Desa) Tahun anggaran 2022 sebesar Rp 100 juta, dengan luas volume 82 meter ini terkesan dikerjakan asal-asalan. 

Dari pengamatan suara publik.com dilapangan menyebutkan, bahwa bahan matrialnya pemasangan dinding atau tembok saluran menggunakan batu bata putih, semacam gamping. Hal ini tentu saja kwalitas nya diragukan. Pasalnya, bila saluran tersebut terisi genangan air, maka tembok tak akan bertahan lama dan mudah hancur. 

Kemudian, kedalaman pondasi nya diduga pendek. Padahal, Pondasi bawah harus lebih lebar dari atas nya. Jarak kolom begel 20 cm. Untuk pembesian, besi begel berukuran 6 inch dan besi pandasi 8 inch. Sehingga di khawatirkan dinding tembok cepat roboh. Begitupun campuran luluh (semen dan pasir) diduga tak sesuai SNI. 

Pada saat melakukan pengecoran pondasi, genangan air tidak di buang terlebih dahulu. Namun, Pelaksana langsung menyiramkan campuran luluh (semen, pasir dan kerikil) kedalam lobang pandasi yang tergenang air tersebut. 

Selanjutnya, ketinggian dinding saluran dari lantai dasar 180 cm dengan lebar saluran 220 cm. Adapun Pembangunan saluran tidak sampai menghubungkan ke saluran Induk. Sehingga apabila turun hujan dan terdapat genangan air akan meluber. Apakah ada kesalahan dari perencanaan ? Atau kah menyesuaikan anggaran ? 

Ironisnya, pada saat suara publik.com beberapa kali mengawasi pekerjaan tersebut, tidak di temukan pengawas dari pihak aparat desa atau pihak pengawas lainnya. 

Salah satu konsultan lulusan ITS, Brian, menjelaskan, bila melihat dan mengamati hasil video dan foto pelaksanaan pembangunan drainase Balongmojo tersebut terkesan ngawur. Pasalnya, Pembangunan dinding saluran menggunakan batu gamping. 

Seharusnya, pelaksana membangun drainase memakai batu kali. Sebab katanya, kualitas batu kali lebih kuat dan tahan lama. 

"Kalau mau bangun drainase ya seharusnya memakai batu kali, bukan dengan batu gamping. Yang jelas, Batu gamping mudah tergerus air dan cepat hancur," tegas Pria asal Surabaya ini. 

Lebih lanjut Ia mengatakan, untuk pembuatan pondasi harus lebih lebar agar dapat menopang dinding saluran. 

"Bagian terbawah atau dikatakan pandasi memakai batu kali bukan Krikil. Selain itu lebih lebar dari atasnya. Ya semacam bentuk trapesium lah mas," ujarnya. 

"Kalau melihat foto pembangunan drainase ini keliatan ngawur, asal jadI mas," pungkasnya. 

Dikonfirmasi Kepala Desa Balongmojo, Sutikno, melalui surat, dgn Nomor : 040/RED/suara-publik.com/SKK.SBY/2022, belum memberikan tanggapan resminya. (SP/Dre)

Editor : Redaksi

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru