Tak Mau Disalahkan, Dirut RSJ Menur Debat Dengan LSM GARAD

suara-publik.com

Surabaya Suara Publik. Audiensi antara LSM GARAD (Gabungan Rakyat Demokrasi)Indonesia dengan Direktur Utama RSJ Menur terkait dugaan pelepasan pasien yang menggunakan Kartu BPJS/KIS ber akhir WO/Walk Out dari pihak LSM. Karena menurut pihak LSM apa yang disampaikan oleh pihak Rumah Sakit melalui Dirut nya dirasa tidak sesuai dengan fakta yang ada. Bahkan sempat terjadi perdebatan antara kedua belah pihak.

Sebelum audiensi, LSM GARAD sempat ber orasi didepan Rumah Sakit Jiwa Menur dengan dikomandani sendiri oleh Achmad Anugrah atau Nano Garad selaku ketua bersama dengan puluhan anggotanya.
Meskipun diiringi hujan, tapi Nano Garad terlihat bersemangat dengan orasi nya.

Saat dipersilahkan untuk ber audiens dengan para pejabat RSj, ada perdebatan yang menarik antara kedua belah pihak. Berikut ini adalah kronologi terjadi nya perdebatan yang membuat pihak LSM GARAD harus keluar dari ruang rapat audiensi tersebut.

Saat ditunggu, Adi Wirjanto selaku Direktur Utama RSj akhirnya membuka rapat dengan mempersilahkan LSM GARAD untuk menyampaikan aspirasinya.
Nano GARAD : "terima kasih atas waktu yang telah diberikan kepada kami, kami sudah beberapa kali kesini, dengan temuan kasus ini. Kami berharap bisa bertemu dengan bapak Dirut, waktu itu kami diterima Dedi yang katanya sebagai Humas Rumah Sakit ini. Saat kami sampaikan kepada Dedi, kami disuruh nulis formulir untuk menyampaikan uneg2nya.

Saat itu Dedi janji diupayakan secepatnya nyampai ke pak Dirut, kami disuruh menunggu, namun sampai beberapa hari kami masih belum mendapatkan jawaban dari pihak Rumah Sakit. Saat kami datangi lagi, kami disuruh membuatkan pengaduan secara resmi. Apa yang disampaikan kami lakukan dengan mengirim surat resmi. Saat menerima surat, Dedi menjanjikan akan ditemui secepatnya oleh pak Dirut, bahkan berani memberikan jaminan. Ternyata sesuai waktu yang ditentukan tidak ada jawaban, maka kami boleh mendatangi.

Namun faktanya masih belum bisa dipertemukan oleh pak Dirut, tapi dijanjikan untuk ketemu dua hari lagi, namun saat waktu yang ditentukan,masih belum bisa ketemu. Tapi yang nemui namanya Basuni yang katanya tim hukum RSJ, dengan membawa surat klarifikasi dari RSJ. Surat tersebut saat kami pelajari, ternyata ada beberapa poin yang menunjukkan tidak sesuai dengan faktanya. Katanya pihak Rumah Sakit menghubungi keluarga pasien karena anaknya kabur dan menawarkan penjemputan secara gratis jika pasien pulang. Namun saat keluarga pasien dihubungi ternyata berkata lain, memang ada telpon bahwa pasiennya lari, tapi tidak pernah ditawarkan penjemputan. Malah yang ber inisiatif nelpon dari pihak keluarga, dan lebih kaget lagi malah ditarif tiga ratus ribu untuk biaya penjemputan.

Padahal pasien sudah dua kali lepas, dan yang menunjukkan tidak adanya profesionalannya lagi, pihak Rumah Sakit malah mengirim surat undangan kepada keluarga pasien tapi bukan melalui kami sebagai pendamping, padahal keluarga sudah memberikan surat kuasa kepada kami.

Masih Nano, ini adalah pasien dengan menggunakan kartu yang dari program pemerintah, otomatis anggarannya sudah ditanggung oleh Negara. Yang kita khawatirkan, pasiennya tidak ada tapi tidak ada laporan, jadi anggarannya masih digelontorkan, ini juga perlu di pantau, karena ada indikasi korupsi berjama'ah disini.
Dirut RSJ menjawab keluhan masyarakat lewat LSM GARAD:
Adi Wirjanto: Saat pertama kali kabur pada tahun lalu, saya masih belum menjabat disini,j adi saya jelaskan kejadian yang tahun ini saja. Jadi pasien itu tidak dilepaskan, tapi kabur saat petugas ada kegiatan senam. Kami juga sudah melakukan pencarian dan juga menghubungi keluarganya, saat kami tunggu, pasien tidak diantar lagi oleh pihak keluarga. Untuk masalah biaya penjemputan itu memang ada, tapi biaya itu untuk pasien yang baru masuk tapi untuk yang lari itu gratis, ujar Adi W.

Masih Adi W, kami sangat berterima kasih jika ada pihak LSM memberikan informasi, itu bisa dijadikan motivasi kami untuk kedepannya, ujar Adi W
Jawaban tersebut langsung dipotong oleh Nano Garad yang terlihat tampak geram."maaf saya potong, kami disini datang bukan untuk mendengarkan kronologi pasien kabur, tapi kami disini meminta pertanggung jawaban yang riil sesuai data yang kami punya. Kalau seperti itu, berarti anda tidak mau disalahkan, malah dibalikkan ke keluarganya, trus pertanggung jawabannya mana?

Masih Nano, ini juga bukan pasien baru, tapi dua kali lepas, kan seharusnya gratis, kenapa disuruh bayar?,ujar Nano dengan nada geram.
Langsung seketika di jawab Basuni, itu sudah sesuai S O P kami, pasien yang lari, jika 2 kali 24 jam keluarga tidak mengasih kabar. Itu sudah bukan tanggung jawab kami, ujar Basuni selaku tim hukumnya.

Sontak saja Nano semakin geram, Ini semakin aneh dan tidak mau disalahkan, pasien itu lari dari sini tanpa didampingi keluarga, bahkan masih memakai seragam. Kalau ada apa-apa dijalan entah itu ketabrak atau hal hal yang tidak diinginkan, terus ber hari-hari tidak datang, apa deadline itu masih dipergunakan. Rumah Sakit apa ini, benar-benar tidak bertanggung jawab",ujar Nano yang terlihat semakin geram
Adi Wirjanto langsung menjawab, ya kalau itu beda lagi, pasti kami akan bertanggung jawab, ujar Adi
Langsung dibalas oleh Nano, apakah harus ada kejadian dulu, baru ada solusi, ujar Nano sambil mengajak tim nya untuk meninggalkan rapat tersebut.

Sebelum membubarkan aksi nya, Nano sedikit ber orasi ,ini masih belum ada penyeleseian, kami akan terus mengawal kasus ini, dan kami akan menyeret kasus ini ke Pidana, secepatnya kami akan melaporkan ke Polda Jatim, sedangkan untuk tarif tiga ratus itu, menurut kami adalah pungli, jadi itu tugas tim Saber Pungli untuk memantau",ujar Nano sambil membubarkan barisan.(fik)

Editor : Pak RW

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru