Surabaya Suara-Publik. Maraknya pemberitaan makanan tidak layak konsumsi karena bahan baku yang tidak sehat masih jadi momok bagi masyarakat.
Himbauan kepada masyarakat agar lebih ber hati hati dalam memilih makanan yang akan disajikan kepada keluarga. Terutama yang doyan dengan rambak atau cecek yang dibuat dari kulit hewan seperti sapi dan lain lain.
Makanan tersebut, jika diolah akan menjadi makanan yang mengundang selera.
Namun tahukah anda, jika proses pembuatan atau pengolahan dari kulit hewan menjadi rambak atau cecek sudah sesuai dengan prosedur. Atau jangan jangan kulit yang dibuat tersebut tidak layak karena seharusnya dibuat untuk bahan industri seperti sepatu,tas,dompet dll,namun diracik dijadikan makanan.
Nano Garad yang telah melakukan investigasi dengan dengan di dampingi wartawan media ini, terkait makanan tersebut.
Menurutnya, ada kejanggalan karena diduga dalam proses pengolahannya sangat tidak wajar dan berbahaya jika dikonsumsi manusia. "Saya dapat informasi,didaerah candi Sidoarjo ada industri pembuatan cecek yang diduga menggunakan bahan kimia dalam pengolahan dari kulit sapi menjadi rambak atau cecek
Seketika itu saya langsung meluncur malam malam untuk melakukan investigasi, karena menurut info, pihak pengusaha melakukan pembuatan tersebut pada malam hari, ternyata benar ada kegiatan",ujar Nano membeberkan temuannya.
"Disaat kami datangi, para pegawainya langsung berlarian, mungkin mereka takut. Bahkan saat kami konfirmasi pun gak ada yang berani jawab, itu menguatkan dugaan kami, bahwa ada ketidak benaran dalam proses pengolahan bahan tersebut",imbuh Nano yang menunjukkan foto hasil investigasinya.
Sementara itu, menurut sumber dari warga sekitar yang tidak mau disebutkan namanya, membenarkan adanya usaha tersebut dan sudah dilakukan turun temurun. " iya benar mas, itu sudah lama sekali, bahkan itu sudah menjadi usaha turun temurun, tapi ya gitulah. Saya sebagai warga yang tau proses pembuatannya, gak mau dan tidak akan makan rambak atau cecek, lah wong pembuatanya pakai bahan kimia, takut saya mas",ujar warga tersebut yang tidak mau disebutkan namanya tersebut.
Usaha tersebut sudah bertahun tahun dan turun temurun, apakah pihak pihak terkait seperti BPOM(Balai Pemeriksaan Obat Dan Makanan) dan Dinas Peternakan Jatim diam atau menutup mata?(bersambung/Ach)
Editor : Redaksi