Dilaporkan Oleh : Mahfud Susyanto
BONDOWOSO(Suara Publik) - Desa Walidono Kecamatan Prajekan, banyak didatangi wisatawan dari luar daerah. Kedatangan para wisatawan tersebut hanya ingin melihat batu kramat peninggalan Kesatria Majapahit yang sedang melakukan syiar agama Islam.
Arif Jahyadi, warga Walidono, mengemukakan, batu tersebut memang sudah ada sebelum ia lahir. Batu itu ditemukan oleh ilmuwan asal Univesitas Gajah Mada, (UGM) Jogjakarta, pada saat melakukan penelitian batu mermer di Desa Pacalan Kecamatan Prajekan.
“Dari hasil penelitiannya, ditemukan dua goa, yakni goa Klelawar dan Goa kapur Bedak,”kata Arif Jahyadi.
Selain itu, ilmuwan UGM tersebut juga menemukan sebongkah batu besar, area tanah milik Negara seluas kurang lebih 6 hektar. Uniknya, batu tersebut mirip telapak kaki anjing yang membekas di batu.
“Menurut para peneliti dari UGM itu, bekas kaki anjing diatas batu itu berasal dari benda hidup, tapi tidak disebutkan benda hidup itu,”ungkapnya.
Dia mengungkapkan, konon, pada 300 tahun yang lalu di Desa Walidono, kedatangan seorang kesatria asal Majapahit, yang bernama kiai Mas Atmari, bersama ajudan setianya, yakni seekor anjing. Tentunya anjing itu bukan anjing biasa, dia juga sangat sakti mandraguna. Karena kesaktiannya tempat dia duduk dan tidur yang beralaskan batu sampai membekas diatas batu itu.
Batu itu diyakini sebagai tempat bertapanya anjing pengikut kiai Mas. Namun, setelah kiyai Mas Atmari meninggal, anjing tersebut tidak diketahui keberadaannya. “Dia hanya meninggalkan batu yang dikeramatkan sampai sekarang, dan batu ukurun besar itu diberinama Lamphetah Patek (Bekas Anjing),”kata Arif yang bertugas sebagai juru kunci situs.
Meski demikian, juru kunci yang pernah menjabat Kades Walidono tersebut mengapresiasi Kades Walidono, Muhlis Hartono, yang peduli terhadap peninggalan bersejarah, sehingga tempat dimana batu itu berada dibangun sebagai tempat wisata.
Karena pengunjung setiap hari banyak yang datang hanya ingin melihat peninggalan sejarah yang ada di Desa Walidono. “Pengunjung setiap hari yang datang cukup banyak, kalau hari-hari biasa bisa mencapai 100 orang, tapi kalau musim liburan bisa mencapai 300 orang pengunjung,”ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Walidono, Muhlis Hartono, melalui Sekretaris Desa (Sekdes) Daryanto, mengatakan, Pemerintahan Desa memang telah menganggarkan untuk pelestarian peninggalan sejarah, apalagi di Desa Walidono banyak situs situs sejarah. “Ini kita lakukan mengorbitkan Desa Walidono melalui tempat-tempat wisata, salah satunya situs batu Lamphettah Patek ini,”kata Sekdes.
Untuk pembangunan dan pelestarian tempat wisata, sambung Daryanto, Desa sudah menanggarkan melalui Dana Desa (DD) sejak tahun 2016, sehingga diharapkan dapat menunjung suksesnya pembangunan dibidang pariwisata. Bahkan, desa sudah membuat peraturan Desa (Perdes) tentang pariwisata.
“Secara bertahap namun pasti, kita terus melakukan upaya untuk membangun Desa Walidono melalui pariwisata, tentunya sector yang lain terus kita galakkan,”imbuhnya.(*)
Editor : Redaksi