Mengungkap Bocornya Aset Daerah Bondowoso.

suara-publik.com
Foto: Bambang Suwito Politisi PDIP

Laporan : Mahfud Susyanto

BONDOWOSO, suara-publik.com- Seperti yang telah di beritakan sebelumnya, tentang aset daerah yang menjadi target evaluasi, mulai terkuak keberadaannya, baik aset yang bergerak maupun tidak. Bambang Suwito, saat ditemui dirumahnya mengaku, Bondowoso yang merupakan salah satu pengekspor kopi mengulas perkembangan Kopi di Indonesia, yang berasal dari perkebunan seluas 1,25 juta hektare.

"Produk kopi Bondowoso itu yang terdiri atas varietas robusta (73%), arabika (27%) dan liberika (kurang dari 1%). Sehingga dalam setahun Indonesia menghasilkan kopi total 663.871 ton,"kata Bambang.

Menurut Bambang, dari data Kementerian Pertanian hingga triwulan IV tahun 2017 menunjukkan, komoditas kopi menyumbang devisa negara sebesar US$ 1,9 milyar atau sekitar Rp 16,03 trilyun. Sementara total volume ekspor mencapai 467.800 ton.

"Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ke-4 dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dan salah satu penyumbang divisa adalah Bondowoso,"kata Bambang.

Bambang, mencontohkan, Kebun Rakyat yang ada di desa Andungsari kecamatan Pakem, terdapat aset Daerah berupa kebun Rakyat seluas -+ 11 hektar, yang selama ini kurang di rawat dan kurang produktif.

"Saat ini saja setiap tahunnya di perkirakan menghasilkan volume panen kopi berkisar 10 Ton, kalau di kelola dan di produksi lagi menjadi Beras Kopi sampai kisaran 7 ton, kalkulasi saja Kopi saat ini harga beras kopi Robusta -+ 60 ribu perkilogram, kasarannya PAD Bondowoso dari Kebun Rakyat di Desa Andungsari mencapai 42 juta pertahun. ini luar biasa,"ungkapnya.

Dijelaskan, itu dalam hitungan tidak produktif, apalagi di kelola secara cermat. Maka dipastikan, PAD Kabupaten Bondowoso akan semakin meningkat, inipun belum desa yang lain, seperti desa Sumber Wringin, kebun kopi Rakyat seluas 4 hektar.

"Dan paling fatal, adalah menejemen Kebun kopi Rakyat di Andungsari saja tidak jelas, yang sebelumnya di bawah pengawasan dan pengelolaan Dishutbun, dan untuk saat ini dibawah naungan Disperta,"ujarnya.

Bambang menambahkan, dari dua kebun ini saja, kalau memang mau serius dikelola oleh Daerah, dipastikan akan meningkatkan volume PAD.

''Saya berharap pemerintahan yang baru dapat mengelola semua aset daerah yang selama ini tidak jelas keberadaannya,"pungkasnya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun suara-publik.com, menyebutkan, pendapatan dari Kebun Rakyat Bondowoso di desa Andungsari dan hutan produktif lainnya hasilnya luar biasa.

Editor : Redaksi

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru