Pastor Paroki Bondowoso, Ajak Umat Katholik Tak Golput di Pemilu 2019

suara-publik.com

Laporan Guido Saphan

BONDOWOSO,(suara-publik.com)-Pastor atau Romo Laurentius Heru Susanto, Pr mengajak seluruh umat Katolik di Bondowoso untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak Pilpres dan Pileg 2019. 

Pemimpin Paroki Gereja Katolik Yohanes Penginjil Bondowoso ini juga mengajak umat Katolik di Kota Tape-sebutan melegenda Kabupaten Bondowoso- tidak golput dan menyalurkan suaranya dalam Pilpres dan Pileg yang berlangsungan bareng pada 17 April nanti.  

Ajakan itu disampaikan Pastor Heru –panggilan akrab Pastor Laurentius Heru Susanto, Pr- saat memimpin Misa atau Ibadah Minggu Palma di Gereja Katolik Yohanes Penginjil Bondowoso, Minggu pagi kemarin (14/4). ”Saya mengajak umat Katolik di Bondowoso untuk berpartisipasi menyalurkan suara dalam Pemilu Serentak Pilpres dan Pileg 2019 tanggal 17 April nanti. Jangan golput.

Karena, dengan ikut berpartisipasi dalam Pemilu 2019, kita turut serta menentukan masa depan Indonesia yang lebih maju, adil, sejahtera, dan damai,” katanya sebelum menutup Misa Minggu Palma.  

Pastor Heru juga mengajak umat Katolik Bondowoso memilih Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPR RI, DPD, DPRD I Jatim, dan DPRD II Bondowoso yang negarawan dan memiliki komitmen yang sejati menyejahterakan masyarakat dan menciptakan persatuan kesatuan serta perdamaian di masyarakat.

”Mari kita umat Katolik datang pagi ke TPS dan salurkan suara kepada presiden dan calon legislatif dengan melihat track reccordnya,” ungkapnya.  

Ajakan Pastor Heru diapresiasi umat Katolik Bondowoso dengan memanjatkan doa bersama di akhir Misa Minggu Palma. Mereka memohon berkat kepada Tuhan agar Pemilu Serentak Pilpres dan Pileg 2019 di seluruh Indonesia dan khususnya di Bondowoso berjalan lancar, aman, jujur, adil, dan damai.

Selain itu, memohon agar terpilih presiden dan wakil presiden serta anggota DPRRI, DPD, DPRD I Jatim dan DPRD II Bondowoso yang terbaik dan bisa mewujudkan kesejahteraan serta kedamaian di masyarakat.  

Misa Minggu Palma sendiri diawali pemberkatan daun palma di halaman SMPK Indra Prastha  Prastha. Kemudian, seluruh umat dari anak-anak hingga orang tua melambaikan daun palma dengan berjalan kaki sekitar dua ratus meter dari halaman SMPK Indra Prastha menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil.

Lambaikan daun palma, ini mengenang Yesus Kristus masuk Jerusalem naik keledai diarak dan disambut sebagai raja penyelamat dunia, sebelum menderita sengsara, disiksa, disalib, wafat, dan bangkit dari kematian untuk menebus dosa manusia.  

Pastor Heru dalam kotbah singkatnya mengatakan, Misa Minggu Palma mengandung makna mendalam bagi umat Katolik. Yakni, umat Katolik bersuka cita, karena Yesus dielukan sebagai raja penyelamat manusia dan menunjukkan kerendahan hatinya dengan menderita sengsara, disiksa dan wafat disalib untuk menebus dosa manusia, seperti tertulis dalam Injil Lukas, Matius, Markus, dan Yohanes. 

”Itu sebabnya, Misa Minggu Palma bagi umat Katolik menjadi awal pekan suci menyambut Paskah, mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan berakhir Paskah yang merupakan puncak peringatan kebangkitan Yesus Kritus,” katanya.

Editor : Redaksi

Birokrasi
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru