Surabaya, suara-publik.com - Setelah diberitakan media ini, UPT Makam Babat Jerawat akhir nya mengakui kesalahan dengan cara mengembalikan dana pemakaman korban covid-19 pada keluarga korban.
Minggu pagi 11/10/2020 sekitar pukul 9 pagi, 2 orang yang mengaku dari UPT Makam khusus Covid-19 datang di kediaman Alm. Siti Chotidjah yang dimakamkan di babat jerawat dengan status positif corona.
Tujuan kedatangan kedua orang tersebut, yaitu mengembalikan biaya pemakaman sebesar 270 ribu rupiah dan meminta kwitansi nya. Memang dalam proses pemakaman, keluarga korban covid dikenakan biaya retribusi dan penggalian tanah sebesar 270 ribu rupiah dan pembelian batu nisan sebesar 150 ribu rupiah.
Dalam pengembalian dana pemakaman dan meminta kwitansinya, kedua petugas tersebut di layani oleh Sugeng adik dan Takim anak Almarhum. Dan sudah diterima pengembalian dana kwitansi juga langsung diserahkan pada petugas makam tersebut.
Seperti yang diberitakan sebelumnya. Lewat berbagai media Wawali Surabaya menyatakan pemakaman pasien covid ditanggung Pemkot Surabaya. Whisnu Sakti Buana sang Wawali juga menerangkan proses penyerahan pasien covid yang terkonfirmasi hasil swabnya dari rumah sakit ke Dinsos dan DKRTH.
Hal tersebut diatas, seperti yang dikutip dari beritajatim dan berbagai media lainnya. Namun hal itu tidak berlaku pada Almarhum Siti Chotidjah 51 tahun, warga Kupang Krajan gang Masjid. Pasien Covid RSI Surabaya, yang meninggal dunia pada tanggal 8/10/2020 Kamis dini hari. Dikenakan biaya pemakaman sebesar rp. 270 ribu oleh petugas makam Babat Jerawat Surabaya.
Penarikan biaya ini membuat keluarga korban covid-19 kecewa dan geram. Arif keluarga korban covid melaporkan kejadian ini pada Ketua RW 3 Kupang Krajan Sawahan Surabaya.
Kusworo, Ketua RW 3 Kupang Krajan kaget dengan penarikan biaya tersebut. "Saya kaget, kok Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau UPT Makam Babat Jerawat melakukan penarikan biaya korban covid. Padahal Pemkot sering sosialisasi lewat media gratis tanpa biaya" kata Kusworo.
Masih Kusworo, sebagai Kasatgas Kampung Wani Jogo Surabaya saya kecewa berat. Karena garda terdepan dalam melakukan edukasi dan tracing pada warga dikira saya pembohong. Sebab sering saya berikan wawasan covid, agar tidak menularkan pada warga lainnya.
Demikian juga bagi yang karena covid tidak dikenakan biaya sama sekali. Kok sekarang warga saya ditarik biaya? Tutup Kusworo dengan nada kesal.(red).
Editor : Redaksi