suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Abdussamad Kajari Gadungan, Dikonfrontir Dengan 5 Saksi Saat Persidangan

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Abdussamad , jaksa gadungan, menjalani sidang di ruang Candra PN.Surabaya, secara online.</p>
Foto: Terdakwa Abdussamad , jaksa gadungan, menjalani sidang di ruang Candra PN.Surabaya, secara online.</p>
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, Suara Publik - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Furkon Adi Hermawan, SH, hadirkan lima saksi. Mereka memberikan keterangan dalam persidangan Abdussamad. Terdakwa ini adalah jaksa gadungan yang telah menipu banyak orang. Bahkan, ia mengaku sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Kelima saksi tadi yakni Deni Alam Kusuma, Muhammad Dandi Prasetyo, Yeni Krisnawati, Chandra Rizal Anggara dan Bagus. Deni dan Dandi pernah ditipu akan dibantu masuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan memberikan sejumlah uang kepada jaksa gadungan tersebut.

Sementara Yeni Krisnawati merupakan Head Marketing Comunication salah satu hotel ternama di Surabaya.

Terdakwa pernah menginap di hotel tersebut selama empat bulan tapi tidak membayar sepeserpun dengan tagihan 27 juta.

Sementara Chandra Rizal Anggara selaku Kasubsi Intelijen Kejari Surabaya yang telah menangkap terdakwa Abdussamad.

Sementara Bagus Tri Sanjaya pernah menjadi sopir terdakwa yang dulunya bekerja di hotel yang sama.

Dalam persidangan itu, Deni mengaku mengenal terdakwa dari almarhum ayahnya. Yaitu Joyo Santoso. Terdakwa pernah menjanjikan akan membantu Deni untuk lolos seleksi PNS di Kejari Surabaya.

“Saat pengumuman kelulusan hasil tes, ternyata saya tetap tidak lulus. Padahal saya sudah bayar Rp 250 juta kepada Abdussamad," kata Deni saat memberikan keterangan dalam persidangan yang dilakukan di ruang Candra, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (18/05/2021).

Hal yang sama juga dialami oleh Dandi. Saksi ini merupakan teman Deni. Ia juga ditipu dengan imingan dapat lulus seleksi PNS di Kementerian Hukum dan HAM.

"Waktu itu saya memang lagi tes PNS di Kemenkum Ham. Terus dikenalkan oleh ayahnya mas Deni. Katanya terdakwa mau bantu. Terdakwa meminta uang ke saya lebih besar dari Deni. Yakni Rp 500 juta,” kata Dandi.

Keduanya sempat melakukan protes kepada terdakwa. Namun, terdakwa menjanjikan akan memberikan surat keputusan (SK) untuk bisa langsung bertugas tanpa harus mengikuti rangkaian tes CPNS lagi. Sayang, SK itu juga tidak kunjung diberikan. Uang kedua korban juga tidak kunjung dikembalikan oleh terdakwa.

Tindakan penipuan terdakwa dilanjutkan ke sebuah hotel di Surabaya. Terdakwa tinggal di tempat tersebut sejak November 2020 hingga Maret 2021.

Yeni mengaku tidak pernah kepikiran kalau orang tersebut merupakan jaksa gadungan. Sebab, penampilannya sangat mirip dengan jaksa aslinya. Apalagi, terdakwa memiliki atribut yang digunakan seorang Kepala Kejari.

Tapi, kecurigaan itu muncul ketika terdakwa selalu menunggak membayarkan tagihan kamar hotel. Bahkan, setiap kali ditagih oleh staf hotel, terdakwa selalu memberikan ancaman akan menutup hotel itu.

“Terdakwa mengaku sebagai aparat negara. Yaitu Kajari. Tapi pembayaran hotelnya menunggak hingga Rp 27 juta. Setiap ditagih katanya akan dibayar negara. Akhirnya kita curiga dan melaporkan ke Polsek Sukomanunggal,” kata Yeni.

Kalau Bagus mantan sopir terdakwa mengaku kalau dirinya baru saja mengenal terdakwa. Saat itu dirinya masih bekerja di salah satu hotel di kota yang sama. Hanya saja, hotel yang berbeda. Di hotel itu ia bekerja sebagai Front Office.

Saat terdakwa menginap di hotel tersebut, ia memanggil Bagus. Lalu menawarkan untuk menjadi sopir sekaligus ajudan pribadinya.

Abdussamad mengaku saat ini dirinya adalah Kajari Surabaya. Dan dalam waktu dekat akan naik jabatan. Karena itu Bagus tertarik dengan tawaran terdakwa.

"Selama saya jadi supirnya, saya hanya mengantarkan istrinya kerja. Tapi terdakwa hanya di hotel saja. Ia tidak pernah ke kantor. Sebenarnya saya curiga. Tapi, saya juga tidak berani tanya," ungkap Bagus.

Sementara itu, Kasubsi Intel Kejari Surabaya Chandra Anggara mengaku kalau dirinya lah yang melakukan penangkapan kepada terdakwa. Penangkapan itu berdasarkan informasi dari Polsek Sukomanunggal.

"Saat itu kami menerima informasi, bahwa pihak Polsek Sukomanunggal mendapat laporan dari manajemen salah satu hotel. Bahwa ada tamu yang mengaku sebagai jaksa, yang menunggak pembayaran kamar hotel tempat terdakwa menginap," terang Chandra.

Polsek lalu memberitahu identitas jaksa gadungan itu. Chandra lalu mencari nama terdakwa di data base Kejari Surabaya. Namun, nama itu (Abdussamad) tidak ditemukan. Bahkan nama terdakwa tidak terdaftar di Kejaksaan manapun.

“Kami pun langsung bergerak untuk melakukan penangkapan. Namun saat mendatangi hotel tersebut, terdakwa sudah berpindah ke hotel lain,” tambah Chandra. Setelah mengetahui posisi terdakwa, lanjut Chandra, pihaknya menangkap terdakwa yang saat itu bersama istrinya.

Dalam penangkapan itu, kartu anggota, seragam jaksa, serta tongkat komando langsung diamankan oleh tim. Semua barang tersebut kini dijadikan barang bukti dalam persidangan.

Setelah mendengar keterangan para saksi, terdakwa Abdussamad yang mengikuti sidang secara daring dari Polrestabes Surabaya membenarkan sebagian besar kesaksian mereka.

Hanya saja ia menyangkal kesaksian dari Muhammad Dandi yang menyebutkan, telah menyetorkan uang sebesar Rp 500 juta untuk bisa lolos tes PNS di Kemenkum HAM. “Bukan Rp 500 juta Yang Mulia. Saya hanya meminta Rp 400 juta," ungkap terdakwa.

 

 

 

 

 

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper