suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Ingin Kabur Dari Polda Jatim, Bagus Tusuk Penyidik Saat Diperiksa, Kini Diadili

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Bagus Prasetyo perkara perencanaan pembunuhan, menjalani sidang di ruang Garuda 2 PN.Surabaya, secara online, Selasa (26/10/2021).
Foto: Terdakwa Bagus Prasetyo perkara perencanaan pembunuhan, menjalani sidang di ruang Garuda 2 PN.Surabaya, secara online, Selasa (26/10/2021).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Bagus Prasetyo ditangkap polisi di rumahnya di Kenjeran pada Selasa (25/5) dini hari lalu karena diduga memalsukan surat-surat seperti ijazah, KTP, kartu keluarga, akta kelahiran dan lainnya. 

Bagus ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran undang-undang informasi dan transaksi elektronik. Setelah ditangkap, dia langsung diperiksa penyidik di ruangan Unit II Subdit V Ditreskrimsus Polda Jatim.

Widagda Yuwana menjadi salah satu penyidik yang memeriksa Bagus bersama penyidik lain, Yuhandik Gustama Putra. Yuhandik sekitar pukul 06.30 keluar ruangan untuk beristirahat di musola. Menyisakan Widagda yang menginterogasi sendirian Bagus. Bagus awalnya kooperatif saat diperiksa Widagda. Dia tenang dan pemeriksaan berjalan lancar.

Namun, Yuhandik tiba-tiba mendengar suara meminta tolong dari ruangannya. Dia yang sedang beristirahat di mushola bergegas menuju ruangan. "Saya buka pintu Pak Widagda sudah tergeletak dan bersimbah darah. Pelipis, dada, kiri, lengan kanan terluka. Dia sambil bawa pisau," kata Yuhandik saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang di ruang Garuda 2 Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (26/10/2021).

Ternyata Widagda habis ditusuk Bagus. Yuhandik tidak tahu dari mana tersangka itu mendapatkan pisau. Dia menduga Bagus mendapatkan pisau di sekitaran ruangan. "Di sekitaran situ kayaknya di dapur (dapat pisau). Di dekat ruang pemeriksaan," ucapnya. 

Yuhandik berusaha menolong koleganya. Dia menarik Bagus yang berada di atas tubuh Widagda. Namun, Bagus marah. Dia menyerang Yuhandik dengan melempar kursi dan tabung pemadam kebakaran. Tidak lama setelahnya datang banyak polisi lain menangkap Bagus. Sedangkan Widagda langsung dilarikan ke rumah sakit (RS) Bhayangkara.

"Saya dirawat lima hari di rumah sakit," ujar Widagda yang juga memberikan keterangan sebagai saksi dalam persidangan.

Menurut dia, Bagus di tengah pemeriksaan izin keluar ke kamar mandi karena sakit perut. Saat melewati dapur, Bagus menemukan pisau. Dia menyembunyikan pisau itu di dalam tangannya untuk dibawa ke ruang pemeriksaan. Saat Widagda akan memasang borgol, Bagus menyerangnya dengan pisau yang digenggamnya. 

Sementara itu, Bagus mengakui semua perbuatannya. Dia nekat menyerang penyidiknya karena punya ide untuk melarikan diri. Ide itu didapatkannya saat menemukan pisau di dapur. "Iya maaf. Saya cuma punya pikiran untuk melarikan diri. Saya khilaf," ungkap Bagus. 

Jaksa penuntut umum Yulistiono dari Kejati Jatim mendakwanya dengan Pasal 338 KUHP jo Pasal 53 ayat 1 KUHP. Dia dianggap berniat menghilangkan nyawa orang lain. Bagus yang tidak didampingi pengacara tidak keberatan dengan keterangan kedua penyidik yang menjadi saksi. Kini dia harus mendekam di Rutan Polda Jatim karena dua kasus berbeda. Pemalsuan surat-surat dan penyerangan kepada penyidik.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper