suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Gelapkan Uang 1,2 Miliar Milik Kongsi Bisnisnya, Mirdianto Dihukum 2 Tahun Penjara

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Mirdianto Rachman mendengarkan majelis hakim membacakan putusan dalam sidang di ruang candra PN Surabaya, Senin (01/11/2021).
Foto: Terdakwa Mirdianto Rachman mendengarkan majelis hakim membacakan putusan dalam sidang di ruang candra PN Surabaya, Senin (01/11/2021).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara penggelapan uang modal pembelian kayu sengon senilai Rp.1.233.462.974,-, dengan terdakwa Mirdianto Rachman (58), diruang Candra PN Surabaya, secara online.

Mirdianto Rachman dihukum pidana dua tahun penjara. Majelis hakim yang diketuai Martin Ginting menyatakannya terbukti bersalah menggelapkan uang pembayaran pembelian kayu sengon dari kongsi bisnisnya, Gunawan Wibisono.

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 372 KUHP sebagaimana dalam dakwaan Pertama.

Modusnya, terdakwa yang mengaku sebagai wakil dari CV Adyargha awalnya mengajak Gunawan bisnis jual beli kayu sengon pada 2015. Namun, setelah Gunawan yang menjabat sebagai direktur PT Jasa Guna Asia Raya menyetor uang, keuntungan dan modal yang dijanjikan terdakwa tidak pernah diberikan. 

"Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan," ujar hakim Martin saat membacakan putusan dalam sidang di ruang Candra Pengadilan Negeri Surabaya (01/11/2021).

Terdakwa Mirdianto yang tidak didampingi pengacara menjelaskan bahwa dirinya bukan sebagai direktur CV Adyargha sebagaimana yang pengakuan Gunawan. Dia juga tidak tahu menahu mengenai bisnis kayu tersebut. Istrinya yang lebih tahu. "Saya hanya sebagai tenaga operasional saja di perusahaan. Bukan sebagai direktur," kata Mirdianto dalam persidangan.

Dalam pertimbangan yang memberatkan, majelis hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa telah merugikan Gunawan. Sedangkan pertimbangan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama persidangan. Meski begitu, dia menerima hukuman yang dijatuhkan majelis hakim. Dia tidak banding terhadap putusan tersebut. "Tanggapannya, saya menerima putusannya," ucapnya. 

Kepada Gunawan yang bersedia menjadi pemodal, terdakwa Mirdianto menjanjikan bahwa uang yang nantinya diinvestasikan akan dikembalikan setelah proyek jual beli kayu selesai. Tidak hanya itu, terdakwa juga akan memberikan keuntungan 10 persen. 

Gunawan akhirnya menyetor modal Rp 1,2 miliar kepada Mirdianto. Pertama, dia mentransfer Rp 352,2 juta untuk modal jual beli kayu yang dibeli dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Namun, kayu-kayu itu tidak kunjung dikirim ke Jawa dari Palangkaraya. Terdakwa beralasan bahwa proses pengirim cukup rumit. Khususnya dalam mengurus dokumen-dokumennya. 

Setelah itu, Gunawan kembali mentransfer Rp 881,2 juta untuk proyek jual beli kayu dari Sorong, Papua. Namun, kayu juga tidak kunjung dikirim. Setelah sekian lama ditunggu, kayu tidak pernah dikirim. Gunawan sempat berusaha menghubungi terdakwa dan mencari keberadaannya, tetapi tidak bisa. Laba tidak pernah ada dan modal tidak kembali.

Jaksa penuntut umum Ahmad Muzakki dalam dakwaannya menyebut bahwa uang yang disetor Gunawan tidak digunakan untuk bisnis jual beli kayu. Uang itu justru terdakwa gunakan untuk kepentingan lain. Di antaranya untuk biaya operasional terdakwa dan kepentingan pribadi seperti membayar utang dan belanja sehari-hari serta membayar biaya sekolah anaknya.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper