suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Gelapkan 886 Buah Ban Seharga Rp 4,5 Miliar Milik PT. SUS, Suwandi Jadi Pesakitan

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Suwandi Trunojoyo saat memberikan keterangan sebagai terdakwa di ruang Garuda 2 PN Surabaya, secara online, Selasa (09/11/2021).
Foto: Terdakwa Suwandi Trunojoyo saat memberikan keterangan sebagai terdakwa di ruang Garuda 2 PN Surabaya, secara online, Selasa (09/11/2021).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Suwandi Trunojoyo dipercaya sebagai Kepala Cabang PT Sumber Urip Sejati (SUS) di Malinau, Kalimantan Utara. Salah satu tanggungjawab Suwandi memesan ban di kantor PT SUS yang beralamat di Margomulyo untuk dijual di kota Malinau. Suwandi memesan secara bertahap ban mulai 2017 sampai 2020. Namun, barang yang tidak terjual dia jual secara diam-diam. Uangnya dia pakai untuk kepentingan pribadinya.

Awalnya dia membuat sales order untuk memesan 3.006 ban di kantor pusat. Pesanan itu disetujui. PT SUS mengirim ban sejumlah pesanan dan sudah diterima Suwandi. Tahun 2018 sebanyak 694 ban, 2019 sebanyak 170 ban dan 2020 sebanyak 270 ban. Semuanya sudah diterima Suwandi. Dia lalu menjualnya.

Namun, dari jumlah ban yang diterimanya setiap tahun, tidak semua laku. Masih ada ban sisa penjualan. Di antaranya pada 2017 sebanyak 51 ban, 2018 sebanyak 476 ban, 2019 yang belum terjual 270 ban dan 2020 sebanyak 89 ban. "Sisa ban yang belum terjual dijual oleh terdakwa tanpa melapor dan menyetor hasil penjualan ke PT Sumber Urip Sejati," jelas jaksa penuntut umum I Gede Willy Pramana dalam surat dakwaannya. 

Mantan karyawan PT SUS Bayu Eko Hariyawan menyatakan, perusahaan merugi hingga Rp 4,5 miliar karena perbuatan terdakwa. Dia lantas diberi kuasa perusahaan untuk melaporkan kasus penggelapan yang dilakukan Suwandi. "Ada ban yang dia jual sendiri, uangnya tidak disetor ke perusahaan," kata Bayu saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (09/11/2021).

Sementara itu, terdakwa Wahyudi yang tidak didampingi pengacara keberatan dengan kesaksian Bayu. Menurut dia, Bayu tidak tahu kasus penggelapan. "Saat saya melakukan (penggelapan), Bayu sudah resign. Dia sudah tidak bekerja sehingga tidak tahu," ujar Suwandi. 

Dia juga membantah telah menggunakan uang dari penjualan selisih ban yang tidak laku untuk kepentingan pribadinya. Suwandi mengaku tidak pernah menikmati uang hasil penjualan ban. "Saya tidak bawa uang. Tidak saya gunakan pribadi," katanya.

Meski begitu, Suwandi mengakui bahwa dirinya memang tidak menyetor uang penjualan dari selisih ban ke kantor pusat di Surabaya. Uang itu disebut sudah digunakan untuk biaya operasional kantor cabang. "Memang belum saya setorkan. Tapi, tidak saya pakai sendiri," ungkapnya.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper