Diabetes melitus merupakan penyakit yang dapat menyerang semua golongan usia, termasuk anak muda. Kondisi ini terbagi ke dalam dua jenis, tipe-1 dan tipe-2.
Diabetes melitus tipe-1 terjadi karena penyakit autoimun yang menyebabkan pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Sementara itu, diabetes melitus tipe-2 muncul sebagai efek dari pola makan tidak sehat karena tidak bisa mengontrol asupan gula yang masuk dalam tubuh.
Diabetes Melitus Pada Lansia
Prevalensi DM pada lanjut usia cenderung meningkat, hal ini dikarenakan DM padalanjut usia bersifat muktifaktorial yang dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Umur ternyata merupakan salah satu faktor yang bersifat mandiridalam pengaruhnya terhadap perubahan toleransi tubuh terhadap glukosa. Umumnyapasien diabetes dewasa 90% termasuk diabetes tipe 2. Dari jumlah tersebut dikatakan 50�alah pasien berumur > 60 tahun.
Untuk menentukan diabetes usia lanjut baru timbul pada saat tua, pendekatan selaludimulai dari anamnesis, yaitu tidak adanya gejala klasik seperti poliuri, polidipsi ataupolifagi. Demikian pula gejala komplikasi seperti neuropati, retinopati dan sebagainya,umumnya bias dengan perubahan fisik karena proses menua, oleh karena itu memerlukan konfirasi pemeriksaan fisik, kalau perlu pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan fisik, pasien diabetes yang timbul pada usia lanjut kebanyakan tidak ditemukan adanya kelainan-kelainan yang sehubungan dengan diabetes seperti misalnya kaki diabetik, serta tumbuhnya jamur pada tempat-tempat tertentu.
Kriteria diagnosis DM dapat mengacu pada rekomendasi ADA (American Diabetes Association) yang tidak menunjukkan adanya pertimbangan spesifik umur. Diagnosis DM dibuat setelah dua kali pemeriksaan gula darah puasa > 126 mg/dl (dengan sebelumnyapuasa paling sedikit 8 jam). Pasien perlu dipastikan tidak dalam kondisi infeksi aktif atausakit akut dalam pemeriksaan ini. Atau gula darah acak > 200 mg/dl dengan gejala-gejala diabetes. Pengukuran hemoglobin terglikosilasi(HbA1c) tidak direkomendasikan sebagai alat diagnostik, tetapi dipakai secara luas untuk memantau efektifitas pengobatan.
Faktor resiko diabetes melitus akibat proses menua
• Penurunan aktifitas fisik
• Peningkatan lemak
• Efek penuaan pada kerja insulin
• Obat-obatan
• Genetik
• Penyakit lain yang ada
• Efek penuaan pada sel
Gejala diabetes di usia lansia
• Sering merasa haus
• Sering buang air kecil, terutama di malam hari
• Sering merasa sangat lapar
• Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas
• Berkurangnya massa otot
• Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi
• Lemas
• Pandangan kabur
• Luka yang sulit sembuh
• Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.
Beberapa gejala lain juga bisa menjadi ciri-ciri bahwa seseorang mengalami diabetes, antara lain:
• Mulut kering
• Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki
• Gatal-gatal
• Disfungsi ereksi atau impotensi
• Mudah tersinggung
• Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemi yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan
• Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan selangkangan, (akantosis nigrikans) sebagai tanda terjadinya resistensi insulin
Penanganan diabetes melitus pada lansia
Sejalan dengan bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh manusia akan menurun. Kondisi ini akan mengakibatkan kerentanan tubuh terhadap serangan penyakit, termasuk diabetes melitus (DM).
Pada lansia, sama seperti nonlansia, mengontrol diabetes sangatlah penting agar terhindar dari komplikasi akut (hipoglikemia, dehidrasi ringan) maupun komplikasi kronis (stroke, penyakit jantung koroner, kebutaan, impotensi). Untuk mencegah terjadinya komplikasi kronis, berikut adalah penanganan yang perlu dilakukan oleh para lansia yang memiliki diabetes:
1. Mengontrol Gula Darah
Dengan kontrol gula darah yang baik, risiko komplikasi makrovaskular dapat dikurangi. Kontrol gula darah ini tidak perlu terlalu ketat pada lansia mengingat risiko hipoglikemia pada lansia penderita DM. Target kontrol gula darah ditentukan oleh status kesehatan serta kemampuan fisik dan mental.
2. Mengontrol Tekanan Darah
Hipertensi merupakan salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular pada DM. Studi The UK Prospective Diabetes Study menunjukkan bahwa kontrol tekanan darah yang baik dengan antihipertensi manapun dapat menurunkan risiko komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.
3. Mengontrol Lemak Darah
DM dianggap sebagai faktor risiko yang setara dengan penyakit jantung koroner, sehingga penanganan DM harus dikelola secara disiplin, yaitu harus mencapai target kadar kolesterol LDL
Selain hal-hal di atas, berhentilah merokok jika Anda merokok serta mulai berolahraga secara rutin. Namun sebelum memutuskan untuk berolahraga, pertimbangkan untuk berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter mengenai olahraga yang cocok untuk Anda.
Penulis: Frisliyanti Rahmah Prodi.
D3 Keperawatan MAHASISWA AKADEMIK KEPERAWATAN HERMINA MANGGALA HUSADA
Editor : Redaksi