suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

"Di Sidang Susanasari" Saksi Ahli Linguistik dan Forensik: Kata Pelacur Itu Menjatuhkan Harkat dan Martabat

avatar suara-publik.com
Foto atas: Terdakwa Susanasari Halim (tidak ditahan), saat menjalani sidang di ruang Garuda 2 PN Surabaya. Foto bawah: Ahli Andi Yulianto, Dosen Linguistik dan Forensik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memberikan penjelasan dipersidangan.
Foto atas: Terdakwa Susanasari Halim (tidak ditahan), saat menjalani sidang di ruang Garuda 2 PN Surabaya. Foto bawah: Ahli Andi Yulianto, Dosen Linguistik dan Forensik, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), memberikan penjelasan dipersidangan.
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara pencemaran nama baik dan penghinaan dimuka umum, melakukan tuduhan secara lisan, yang semua tuduhan itu tidak terbukti kebenarannya, dilakukan oleh terdakwa Susanasari Halim, diruang Garuda 2 PN.Surabaya.

Dalam perkara ini, dipersidangan terdakwa Susanasari tidak ditahan, selanjutnya majelis hakim Suparno mempersilahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ahmad Muzakki untuk menghadirkan Ahli dipersidangan.

Ahli Andi Yulianto, Dosen Linguistik dan Forensik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menerangkan tentang penghinaan kata Pelacur, menurut ahli kata " Pelacur" bila ditujukan kepada seseorang, memiliki arti orang tersebut adalah pelacur, jika hal tersebut tidak benar adanya, akan menjatuhkan harkat dan martabat seseorang.

100%100%

Ahli menambahkan kata lain pelacur adalah sundel ,WTS atau PSK, yang masuk dalam kegiatan Prostitusi, Rabu (15/12).

Tentang perkataan DPO ( Daftar Pencarian Orang) yang dimaksud ditujukan atau dituduhkan terhadap seseorang, orang tersebut saat ini sering dicari. Sama halnya dengan perkataan pelacur, perkataan atau tuduhan yang ditujukan terhadap orang lain, jika hal itu tidak yang sebenarnya, juga siapa yang mau dikatakan, demikian sudah termasuk menghina atau mencemarkan nama baik orang tersebut.

Usai memberikan keterangan, hakim Suparno memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk bertanya, atau bagaimana dengan keterangan ahli yang telah disampaikan dipersidangan,

" Bagaimana terdakwa, ada yang mau ditanya, bagaimana tadi keterangan ahli,"

" Saya tidak mengajukan pertanyaan yang mulia" ujar terdakwa Susanasari.

" kami berikan kesempatan satu Minggu untuk mengajukan saksi yang meringankan ya," ucap hakim parno.

Sidang diakhiri dengan ketokan palu hakim ketua.

Berawal terdakwa Susanasari Halim bersama tiga teman lain menemani koleganya, Debora menemui Tina Rumui untuk negosiasi jual beli rumah di rumah makan Solaria Grand City Mall pada 4 September 2019 lalu. Tina yang akan menjual rumahnya di Villa Kalijudan Indah juga datang bersama teman-temannya, Henry Haryanto dan Johan Wijaya. 

Mereka saling tawar menawar harga rumah. Namun, setelah sekian lama bernegosiasi, tidak ada kecocokan harga. Tina batal menjual rumahnya kepada Debora. "Ketika negosiasi terjadi tidak ada kesepakatan.

Suasana pertemuan memanas. Sempat terjadi adu mulut. Susanasari emosi. Dia marah-marah dengan suara keras kepada Tina sembari menuduh "penipu". Ucapan itu dilontarkannya sembari mengacungkan jari tengah ke arah wajah Tina. Dia juga menuding Tina masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus penipuan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. 

Teman-teman lain yang ikut hadir dalam pertemuan itu berusaha menengahi pertengkaran tersebut. Salah satunya Henry, teman Tina yang menegur Susana agar menjaga ucapannya. Namun, Susana yang sudah terlanjur emosi tidak terima ditegur. Dia meminta Henry agar tidak usah ikut campur.

Tina mengalah, memilih pergi meninggalkan rumah makan bersama teman-temannya. Namun, terdakwa masih belum puas. Dia kembali berkata pelacur ke arah Tina sambil mengacungkan jari tengah. Teriakan Susana terdengar oleh orang-orang yang ada di dalam rumah makan dan sekitarnya. 

Tina kemudian tetap pulang. Setelah meninggalkan Susanasari di rumah makan, dia lantas melaporkan perempuan itu ke kantor polisi.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper