suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

NGAKU KENAL PRESIDEN, KAPOLRI HINGGA PANGLIMA TNI, TIPU PESERTA AKPOL - AKMIL Rp. 1,035 MILIAR. H. NOVI ALIANSYAH DIBUI 2,5 TAHUN,"NYATAKAN BANDING"

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa H. Novi Aliansyah, menjalani sidang, dengan agenda putusan hakim diruang Candra PN Surabaya, secara online.Senin (07/02/2022)
Foto: Terdakwa H. Novi Aliansyah, menjalani sidang, dengan agenda putusan hakim diruang Candra PN Surabaya, secara online.Senin (07/02/2022)
suara-publik.com leaderboard
Surabaya, suara publik - Berbekal pengakuan kenal dengan Presiden, Kapolri hingga Panglima TNI, terdakwa H. Novi Aliansyah,SE, meraup keuntungan hingga Rp 1,035 miliar. Modusnya mencari peserta Akpol dan Akmil yang gagal tes agar mau membayar sejumlah uang dan dijanjikan lolos tes, lewat jalur khusus.

Sidang kali ini dengan agenda pembacaan amar putusan oleh hakim ketua Martin Ginting, diruang Candra PN.Surabaya, secara online, Senin (07/02/2022).

Mengadili, menyatakan bahwa terdakwa H.Novi Aliansyah,SE, terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana " Penipuan " Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378 KUHP, dalam dakwaan kedua Jaksa.

"Menimbang hal yang memberatkan, terdakwa Novi , telah meresahkan masyarakat dan merugikan orang lain.

Pertimbangan yang meringankan terdakwa Novi bersikap sopan, dan mengakui perbuatannya." Ujar Ginting.

Menghukum terdakwa H.Novi Aliansyah,SE dengan pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan, dikurangkan seluruhnya selama terdakwa ditahan, menyatakan terdakwa tetap berada dalam tahanan.

Menyatakan Barang bukti berupa berkas yang telah menjadi bukti dipersidangan, tetap terlampir dalam berkas perkara.

Putusan hakim sama dengan tuntutan 

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Triyono Yulianto,dari Kejati Jatim, yaitu menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan

Terhadap putusan hakim, terdakwa H.Novi Aliansyah,SE, yang tidak didampingi penasihat hukum, menyatakan Banding, " Saya banding yang mulia," ucap terdakwa.

Saat itu, salah satu korban terdakwa, Ongky Bahrudin Winata mengikuti mendaftar untuk mengikuti tes Akpol 2021 di Polda Jatim. Selama tahap seleksi, Ongky tinggal di rumah pakdenya, Kartono di Surabaya.

Orang tua Ongky, Nanang Hadi Purwanto dan Widiana berkunjung ke rumah Kartono. Keduanya berniat menjenguk Ongky. Saat berkumpul, Kartono menghubungi H. Novi. Kartono lantas bercerita jika keponakannya, Ongky sedang ikut tes Akpol.

Pada saat itu H. Novi bercerita kalau baru saja mengurus orang masuk Akpol lewat kuota khusus.orangtua Ongky mengharap pakdenya Kartono, agar bisa lulus tes lewat terdakwa.

Pada 24 Mei 2021, H. Novi meminta uang Rp 500 juta kepada Kartono. Tujuannya agar bisa meloloskan Ongky lulus tes Akpol 2021. Saat itu, ibu Ongky, Widiana mentransfer uang sebesar Rp 500 juta lewat Bank BRI.

Namun saat pengumuman, Ongky justru tak lulus. Kembali terdakwa menawarkan bisa meluluskan tes Akmil 2021. Ongky pun lalu diminta untuk segera mendaftarkan diri pada penerimaan Akmil tersebut. H. Novi kembali meminta uang Rp 585 juta.

Orang tua Ongky, kembali mentransfer uang yang diminta dan sudah diterima H. Novi. Di antaranya Rp 50 juta melalui rekening Kartono ke rekening H. Novi. Lalu Rp 25 juta yang diserahkan langsung oleh Kartono kepada H. Novi, serta Rp 50 juta sebanyak empat kali.

Selain itu sebanyak Rp 10 juta, Rp 215 juta, Rp 50 juta, Rp 25 juta serta yang terakhir Rp 10 juta. Sejumlah uang tersebut ada yang diserahkan kepada H. Novi di Rumah Sakit Kodam Surabaya. Lagi-lagi, Ongky tak lulus tes dan gagal masuk Akmil. 

Minat keponakannya itu tak lulus tes hingga merugi Rp 1,85 miliar, Kartono langsung meminta uang itu kembali. H. Novi sempat berjanji jika yang itu akan dikembalikan kepada Kartono. "Saya diberi Bilyet Giro Rp 250 juta. Tapi saat dicairkan ternyata rekeningnya ditutup," ujar Kartono.

Rupanya uang Rp 1,85 miliar itu digunakan untuk membangun RS Kodam V Brawijaya yang seolah-olah itu milik H. Novi sendiri. Namun H. Novi baru mengembalikannya sebesar Rp 50 juta saja. Sisanya Rp 1,35 miliar hingga saat ini belum dikembalikan.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper