suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

UANG URUS PERIZINAN Rp. 118 JUTA, DIBUAT FOYA-FOYA, DIKA AFRIZAL BABLAS PENJARA

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Dika Afrizal, saat menjalani sidang diruang Cakra PN.Surabaya, secara online.Rabu (30/03/2022).
Foto: Terdakwa Dika Afrizal, saat menjalani sidang diruang Cakra PN.Surabaya, secara online.Rabu (30/03/2022).
suara-publik.com leaderboard
Surabaya, suara publik - Dika Afrizal didakwa melanggar pasal 374 KUHPidana tentang penggelapan dalam jabatan. Dia nekat menggelapkan uang perusahaannya sendiri senilai Rp 118,5 juta. Padahal yang tersebut harusnya digunakan Dika untuk mengurus perizinan dan BPJS.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Neldy Denny dalam dakwaannya menyatakan, Dika merupakan staf personalia yang bekerja pada PT Fuboru Indonesia dan PT HRL Internasional. Dia diberi tugas mengurus perizinan oleh pemilik perusahaan, Heru Prasanta Wijaya.

"Di mana terdakwa diminta untuk mencari vendor atau pihak kedua agar pengurusan perizinan dapat lebih cepat," ujarnya, diruang Cakra, Rabu (30/0/2022).

Dika kemudian mencari pihak kedua. Namun menurut Dika, biaya vendor itu di atas Rp 100 juta. Pria lulusan sarjana itu lalu menanyakan kepada instansi terkait. Menurut instansi itu, pengurusan perizinan dapat diurus sendiri dengan estimasi waktu sekitar tiga bulan.

Ketentuannya, syarat yang diminta harus lengkap. Nah, Dika lalu berinisiatif untuk membuat vendor sendiri tanpa sepengetahuan perusahaannya. Vendor itu diberi nama Rudin. Dika kemudian menyampaikan kepada Heru, jika membutuhkan dana cepat untuk mengurus perijinan itu.

"Terdakwa menyampaikan bahwa butuh dana segera dimana pengurusan ijin akan cepat jadi karena pengurusan perijinan melalui Rudin," imbuh jaksa Neldy.

Dika kemudian malakukan kas bon kepada Heru dengan total Rp 84 juta. Dika juga mengambil uang dengan cara kas bon ke kasir PT Fuboru Indonesia, Sri Pilih Handajani sebesar Rp 14 juta. Tak hanya itu, Dika juga melakukan kas bon kepada Nicolas Harijadi Rp 20,5 juta. 

Namun pada kenyataannya, perijinan perusahaan yang akan diurus oleh Dika justru tidak ada. Uang Rp 118,5 milik perusahannya justru dipakai Dika untuk membayar pinjaman online serta dipakai berfoya-foya tanpa seijin dari Heru.

"Memang saya sempat mengurai ke vendor. Tapi biasanya sangat tinggi. Akhirnya saya inisiatif sendiri Yang Mulia. Saya menyesal Yang Mulia," ujar Dika saat ditanya Ketua Mejelis Hakim Suparno.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper