suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

"BANDAR SABU JARINGAN ANTAR PULAU" AMBIL SABU DI PEKANBARU 43 KILOGRAM. DWI VIBBI DAN IKHSAN DITUNTUT HUKUMAN MATI

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Dwi Vibbi Mahendra dan Ikhsan, saat menjalani sidang dengan agenda tuntutan Jaksa, diruang Candra PN Surabaya, secara online.Selasa (28/06/2022).
Foto: Terdakwa Dwi Vibbi Mahendra dan Ikhsan, saat menjalani sidang dengan agenda tuntutan Jaksa, diruang Candra PN Surabaya, secara online.Selasa (28/06/2022).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara jaringan peredaran narkotika jenis sabu lintas pulau di Indonesia, sebanyak 43 Kilogram yang dikemas dalam bungkus teh Cina, terbagi dalam dua koper, dengan Terdakwa Dwi Vibbi Mahendra bersama dengan terdakwa Ikhsan Fatriana, diruang Candra PN.Surabaya, secara online.Selasa (28/06/2022).

Kedua terdakwa Vibbi dan Ikhsan dituntut dengan pidana maksimal yakni berupa hukuman mati. Tuntutan tersebut dibacakan langsung oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Febrian Dirgantara dari Kejari Surabaya.

JPU Febrian menyatakan kedua terdakwa telah terbukti bersalah terlibat dalam peredaran narkoba sabu seberat 43 kilogram jaringan antar pulau, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 tahun 2009. 

"Memohon kepada majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini, menjatuhkan hukuman berupa pidana mati," kata Febrian saat membacakan tuntutannya.

Mendengar hal itu, kedua terdakwa hanya diam dan menunduk ketika mendengarkan tuntutan sidang yang berlangsung secara teleconference itu. Kemudian, JPU kembali membacakan hal yang memberatkan dan meringankan hukuman para terdakwa.

"Hal yang memberatkan terdakwa adalah tidak mendukung program pemerintah dan merusak generasi bangsa. Sedangkan, hal yang meringankan tidak ada," lanjutnya.

Selain itu, JPU memohon pada hakim untuk tidak melakukan pertimbangan terhadap saksi. Menurutnya, tidak ada relevansi.

"Tanggapan dari terdakwa membenarkan seluruh keterangan dari para saksi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim, Martin Ginting memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk menjawab tuntutan. Ia menyebut, jawaban 2 terdakwa bisa disampaikan secara tertulis melalui kuasa hukumnya, Adi Chrisianto pada Selasa (5/7) pekan depan.

"Terhadap tuntutan yang sudah dibacakan JPU, silakan konsultasi dengan klien saudara. Kami beri waktu 1 minggu pada Selasa (5/7) untuk memberikan jawaban secara tertulis," tuturnya.

Apabila tak ada jawaban hingga waktu yang ditentukan, sambung Martin, terdakwa dianggap tak mengajukan pembelaan. Artinya, menyetujui tuntutan dari JPU.

"Tanggal 5 Juli 2022 tidak ada lagi menunda dan kami catat. Apabila tidak mengajukan, kami anggap tidak mengajukan pembelaan," katanya.

Sedangkan, pengacara kedua terdakwa, Adi Chrisianto mengamini hal itu. Ia menegaskan, bakal menjawab tuntutan dalam nota pembelaan atau pledoi pekan depan.

"Baik, kami mohon waktu 1 minggu yang mulia," ujar dia.

Sebelumnya, pada hari Selasa tanggal 14 Desember 2021, Joko (DPO) menghubungi terdakwa Dwi Bibbi Mahendra melalui chat BBM, memberi tahu besok ada pengiriman Narkotika, terdakwa Vibbi disuruh berangkat ke Bandung.

Anak buah Joko, Zoa zoa memberitahu terdakwa uang transport ke Bandung sudah dikirim sebanyak 1,8 juta. Tersakwa menggunakan transportasi kereta api, sampai di Bandung terdakwa menginap dihotel dekat stasiun.

Zoa zoa menginfokan kalau ada seseorang pria menemui untuk menemani terdakwa.Pada hari Senin tanggal 20 Desember 2021, terdakwa Ikhsan Fatriana datang menemui terdakwa Vibbi di hotel.

Selanjutnya keduanya mendapat perintah untuk Pekanbaru, dari Bandung ke Jakarta, selanjutnya membeli tiket untuk meneruskan perjalanan ke pekanbaru.

Setelah tiba di Pekanbaru dan menginap di hotel, para tanggal 21 Desember 2021, Joko menghubungi terdakwa Ikhsan , untuk mengambil sabu dan disetujui oleh para terdakwa, dengan mengendarai Grab Car menuju lokasi yang telah ditentukan, kemudian ada sebuah mobil Toyota Sient warna silver abu-abu dan para terdakwa langsung menuju ke mobil tersebut, tidak dalam keadaan terkunci dan didalam mobil tersebut terdapat 2 (dua) tas koper warna biru dan merah yang berisi Narkotika jenis sabu.

Vibbi diperintah Joko untuk membeli gembok koper,Setelah di Pekanbaru, diperintah untuk ke Padang, dan Vibbi mendapat uang transfer lagi sebesar 13 juta, ke Padang menggunakan Travel selama 12 jam perjalanan, setibahnya di Padang menginap selama 5 hari.Selanjutnya mendapat perintah dari Joko untuk ke Bengkulu selama 3 hari,

Kemudian pada hari Minggu tanggal 09 Januari 2022 para terdakwa mendapat perintah lagi dari Joko untuk Lampung menggunakan jasa travel, para terdakwa menginap di Hotel Arinas kamar No. 506 Jl. Raden Intan No. 35 Gunung Sari Tj. Karang Engal Kota Bandar Lampung.

Kemudian pada hari Selasa tanggal 11 Januari 2022 sekitar pukul 20.00 Wib bertempat di dalam kamar No. 506 para terdakwa ditangkap oleh saksi Agus Purwanto, Kusnan Efendi, saksi Havid dan saksi Mohammad Syafi'i, anggota kepolisian dari Polrestabes Surabaya.

Dilakukan penggeledahan dan ditemukan barang bukti, 1 buah koper warna biru berisi 20 (dua puluh) bungkus Teh Cina warna hijau yang berisi sabu dengan berat total 20.673 gram (20,673 kilogram), 1 buah koper warna merah berisi 22 (dua puluh dua) bungkus Teh Cina warna hijau yang berisi sabu berat total 22.738 (22,738 kilogram), berada disamping elevise kamar No. 506 Hotel Arinas Bandar Lampung.

Perbuatan para terdakwa Sebagaimana diatur dan diancam pidana sesuai ketentuan pasal 114 ayat (2) Jo. Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.Ancaman maksimal hukuman mati.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper