suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Pedagang Nasi Pecel Menjerit, Bayar Tagihan PGN Rp. 400 Ribu Lebih

avatar suara-publik.com
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Polemik kenaikan harga, pajak PPH dan kontrol meteran 3 bulan sekali pada meteran sambungan rumah Perusahaan Gas Negara (PGN) yang sempat viral karena DPRD kota Surabaya sempat Hearing.

Ternyata hingga kini masih menjadi momok bagi warga pelanggan PGN. Seperti halnya yang terjadi pada Karsiah pedagang Nasi Pecel dikawasan Kupang Krajan tengah Surabaya. Pedagang Nasi Pecel yang masuk kategori masyarakat berpenghasilan rendah ini harus membayar biaya tagihan PGN sebesar Rp 400 ribu lebih.

"Tiap bulan saya harus bayar PGN antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu lebih. Sementara usaha nasi pecel saya tidak seramai sebelum covid-19 dulu. Saya harus mengadu kemana ini. Dulu pernah mengadu kepada ketua RW dan masalah ini ramai di Dewan bahkan tiap hari banyak berita di media tentang mahal biaya yang dikenakan pada warga. Tapi tetap saja saya bayar Rp. 400 ribu." Keluh Karsiah pada suara publik.(23/07/2022)

Masih Karsiah, saya tidak tahu berapa kibik gas yang saya gunakan, karena kontrol meteran Gas dilakukan 3 bulan sekali. Karena tidak mampu lagi membayar saya akan berhenti berlangganan gas PGN, tutup Karsiah.

Sementara itu, Joko Prasektyo Ketua LPMK Kupang Krajan menanggapi keluhan Karsiah. Menurut Joko, bukan hanya Karsiah, tapi banyak warga yang mengeluh padanya. "Banyak keluhan serupa dari pelanggan PGN. Besarnya tagihan gas bumi PGN sudah menimbulkan gejolak warga. Harusnya PGN mengkaliberasi meter pelanggan secara periodik. Setidaknya tiap 6 bulan sekali. Hingga saat ini, PGN belum pernah lakukan kaliberasi meter pelanggan. Padahal sudah tahunan" papar Joko.

Lanjut Joko, sebagai ketua LPMK Kupang Krajan saya sdh adukan persoalan warga ini ke Ombudsmen RI. Sekarang sedang ditangani Ombudsmen RI. Mudah-mudahan hasilnya seperti yang kita harapkan, tambahnya.(*)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper