suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

PERDAYA NENEK TININGRUM, MODUS BUKA REKENING DEPOSITO BERJANGKA, SAAT JATUH TEMPO DEWI RAHARJO GASAK ISI UANG Rp. 345 JUTA

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Koesoemo Dewi Raharjo,menjalani sidang diruang Kartika 2, PN.Surabaya, Kamis (18/08/2022).
Foto: Terdakwa Koesoemo Dewi Raharjo,menjalani sidang diruang Kartika 2, PN.Surabaya, Kamis (18/08/2022).
suara-publik.com leaderboard
Surabaya, suara publik - Sidang perkara penggelapan dengan tipu daya sehingga Tiningrum Tjandra mau mendepositokan uangnya sebesar Rp.345 Juta, namun saat jatuh tempo pengambilan digasak oleh terdakwa Koesoemo Dewi Raharjo, untuk kepentingan pribadinya, diruang Kartika, PN.Surabaya, Kamis (18/08/2022).

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis, dari Kejari Surabaya, menyatakan terdakwa Koesoemo Dewi Raharjo, "dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi berada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan,"

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP.

Saksi Tiningrum Tjandra (korban) dihadirkan dipersidangan untuk memberikan keterangannya,

Nenek yang sudah rentah ini menjelaskan sambil sesekali menanyakan kepada cucunya yang ada dibelakang kursi rodanya,

" Dewi ( terdakwa) itu satu kampung dengan saya, saya dikirim makanan sekali dalam satu hari, yang dikirim seadanya, cukup gak cukup ya segitu," kata saksi.

" Kenapa kok gak minta kiriman makan dari cucu atau anak mantu, kok percaya sama terdakwa," tanya hakim.

" Saya ini tinggal sendirian pak hakim, jadi Dewi itu yang sering perhatian sama saya," jelas saksi lagi.

Saksi Tiningrum bersaksi bahwa saat membuat rekening tersebut bukan buat untuk rekening bersama tapi dibuatkan rekening atas nama terdakwa Dewi, saat itu saksi tiningrum percaya karena terdakwa baik dan seorang wakil RT dikampungnya.

"Saat itu saya ikut ke Bank tapi saya gak ikut naik, karena kaki saya sakit, tidak ada kertas yang ditunjukan saya, uang itu diambil dari rekening Bank saya 345 juta itu, tahunya saya waktu dikasih lihat orang bank, uang saya berkurang, masuk ke rekening deposito itu," ujar saksi.

" Kalau sekarang ada pembayaran uang ibu sebesar 345 juta apakah ibu Tiningrum mau menerimanya," tanya Pengacara terdakwa.

" Ya mau pak, tapi saya masih menuntut untuk rumah saya," ucap saksi Tiningrum.

Saksi Tiningrum mau menerima uang pengembalian dari terdakwa, namun saksi masih menuntut terkait rumahnya, dan uang pengembalian tersebut, harus berproses kepada JPU nantinya.

Sidang oleh Hakim ketua Gunawan akan dilanjutkan Kamis pekan depan, dengan agenda saksi yang dihadirkan oleh JPU.

Diketahui sebelumnya, pada tahun 2012 terdakwa Dewi menawarkan saksi Tiningrum Tjandra agar membuka rekening deposito berjangka di Bank BCA , untuk mendapatkan bunga yang lebih besar, atas nama Tiningrum sendiri.

Selanjutnya tanggal 30 November 2012 saksi Tiningrum yang saat itu sulit berjalan normal pergi ke bank BCA Ambengan Surabaya diantar terdakwa Dewi, untuk membuka deposito berjangka.

Sampai di Bank saksi Tiningrum membuka rekening deposito berjangka, tanpa sepengetahuan saksi Tiningrum, rekening tersebut diatas namakan terdakwa Koesoemo Dewi Raharjo, dengan nilai Rp.345 Juta.

Dalam slip deposito berjangka tanggal 30 November 2012, jangka waktu tiga bulan.

Saat jatuh tempo tanggal 31 Januari 2013, uang deposito berjangka tanpa sepengetahuan saksi Tiningrum dicairkan oleh terdakwa Dewi ke rekening BCA pribadinya, yang dipergunakan terdakwa untuk kepentingan pribadi.

Akibat perbuatan terdakwa, saksi Tiningrum Tjandra mengalami kerugian sebesar Rp. 345.000.000,- (Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper