suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

BERDALIH UNTUK PENGOBATAN ISTRI, RUDI HARTANTO EMBAT UANG TAGIHAN BATA RINGAN Rp.72 JUTA, DIADILI

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Rudi Hartanto, menjalani sidang agenda saksi, diruang Garuda 1 PN Surabaya, secara online, Senin (22/08/2022).
Foto: Terdakwa Rudi Hartanto, menjalani sidang agenda saksi, diruang Garuda 1 PN Surabaya, secara online, Senin (22/08/2022).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara penggelapan uang setoran penjualan bata ringan, mortar dan panel lantai milik pabrik CV Building Material Construction secara berlanjut, dengan terdakwa Rudi Hartanto bin Suraji, diruang Garuda 1 PN Surabaya, secara online, Senin (22/08/2022).

Agenda sidang Jaksa Diah Ratri Hapsari dari Kejari Tanjung perak menghadirkan tiga saksi staf perusahaan tersebut, yakni, M.Supriyanto sebagai Supervisor , Deriska Amelia sebagai HRD dan Desi Rahayu staf admin.

Saksi Supriyanto, mengecek pembayaran ke toko bangunan yang sudah membayar melalui terdakwa, namun uang tagihan tersebut dibawah oleh terdakwa.

" Saya ditugaskan kantor untuk mengecek ke toko bangunan ternyata sudah bayar ke pak Rudi, namun tidak disetorkan ke perusahaan, sekitar 70 jutaan yang mulia," jelas saksi.

" Sebenarnya sudah diberi kesempatan untuk menyicil, selama tiga bulan, namun pak Rudi tidak sanggup lagi, katanya uang tersebut dipakai untuk pengobatan istrinya yang sakit," tambah saksi.

Saksi Desi sebagai admin kantor juga ikut melakukan penagihan, ternyata toko bangunan yang didatangi sudah membayar semua kepada terdakwa.

" Saya ikut menagih ke costumer, ternyata sudah bayar semua ke pak Rudi, tapi tidak disetorkan ke perusahaan, " ujar saksi.

Tak jauh berbeda keterangan yang diberikan oleh saksi Deriska Amelia selaku HRD, terdakwa sempat dipanggil menghadap saksi, menanyakan kenapa uang tagihan tidak disetorkan, 

" Kita tanyakan sebab tidak disetorkan uang tagihan, saat itu pak Rudi sanggup untuk menyicil, awalnya nilainya 100 juta yang mulia, sudah dicicil dari potongan gaji, namun tidak sanggup nyicil lagi, kurangnya sekitar 70 juta an, " jelas saksi.

Terhadap keterangan tiga saksi tersebut, terdakwa Rudi Hartanto membenarkan, 

" Uang tersebut saya pakai untuk pengobatan istri saya yang sedang sakit, tidak saya setorkan ke peeusahaan, kini uangnya sudah habis yang mulia," kata terdakwa.

Hakim Sudar menunda sidang pada Senin pekan depan, dengan agenda tuntutan JPU.

Diketahui sebelumnya, terdakwa merupakan sales dan bagian penagihan CV.Building Material Construction jalan Sukomanunggal Jaya No 5 Surabaya (Ruko Satelit Town Square Blok B9), 

sejak 24 Maret 2020.Dengan gaji Rp. 2.365.500,-, dengan area Lumajang dan Jember,. Promosi barang bata ringan dan mortar ( semen bata ringan), panel lantai, yang dijual kepada konsumen, dan melakukan penagihan ke toko bangunan.

Pesanan disampaikan ke admin pengiriman ke admin pabrik, selanjutnya dilakukan pengiriman sesuai order terdakwa dan tujuan toko.Dengan dua cara pembayaran, cara transfer ke perusahaan, atau membayar langsung ke terdakwa, wajib menyetorkan uang tagihan tersebut ke perusahaan.

Terdakwa selaku Sales area Lumajang dan Jember telah menerima pembayaran secara tunai dari toko-toko tersebut, namun oleh terdakwa uang pembayaran yang telah diterima tidak disetorkan ke CV.Building Material Construction.

Akibat perbuatan terdakwa CV.Building Material Construction mengalami kerugian sebesar Rp 72.336.000,-

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 374 KUHP Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHP.(Sam)<

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper