suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Tagih Uang Kayu Dengan Nota Palsu, Kepala Gudang Ini Gasak Uang Kantor, Naslikan Dituntut 9 Bulan Penjara

avatar suara-publik.com
Foto:Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi, menyidangkan terdakwa Naslikan, dengan agenda tuntutan, diruang Cakra PN.Surabya, secara Vidio call.Kamis (01/09/2022).
Foto:Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi, menyidangkan terdakwa Naslikan, dengan agenda tuntutan, diruang Cakra PN.Surabya, secara Vidio call.Kamis (01/09/2022).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara perbuatan penggelapan dalam jabatan berupa barang perusahaan berbagai jenis kayu di UD.Sarana Bangunan jalan Lidah Wetan 24 Surabaya, tidak disetorkan setelah melakukan penagihan, dengan Terdakwa Naslikan bin Sodig, diruang Cakra PN.Surabaya, secara Vidio call.Kamis (01/09/2022).

Dalam tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Deddy Arisandi dari Kejari Surabaya, menyatakan terdakwa Naslikan telah 

"dengan sengaja melawan hukum memiliki barang adalah kepunyaan orang lain, tetapi berada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, yang dilakukan oleh orang yang menguasai barang itu karena jabatannya, sebagai satu perbuatan berlanjut."

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 Jo. Pasal 64 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 9 bulan, dikurangkan selama terdakwa dalam tahanan, dan terdakwa tetap dalam tahanan.

Hakim ketua AA GD.Agung Pranata, memberikan kesempatan kepada penasihat hukum terdakwa mengajukan pembelaan secara tertulis pada hari Kamis pekan depan.

Diketahui sebelumnya, terdakwa Naslikan merupakan Karyawan UD.Sarana Bangunan jalan Lidah Wetan 24 Surabaya, dibidang jual beli bermacam jenis kayu. Terdakwa sebagai kepala gudang sejak tanggal 24 Juli 1997 hingga 17 November 2021, bertugas mengatur karyawan dan operator Forclip, bongkar muat kayu dengan gaji Rp 3.150.000,- dan bonus Rp.2,5 juta setiap 6 bulan sekali.

Terdakwa melakukan penjualan dan penagihan ke toko yang membeli kayu, namun hasil penagihan tidak disetorkan ke kantor,melainkan digunakan untuk keperluan perbuatan tersebut diketahui pemilik Toko Tjio Anton Sugihartono, dilihat dari tagihan lama tapi belum lunas. Saat ditanyakan, terdakwa mengatakan jika masih belum ada yang bayar.

Saat saksi Tjio Anton datang langsung ke konsumen untuk menagih, ternyata semua toko tersebut sudah membayar ke terdakwa, dan sudah lunas. Jumlah nota uang pembayaran yang tidak disetorkan ke kantor oleh terdakwa adalah,

Saksi Shobirin membeli kayu ke UD.Sarana Bangunan sejumlah Rp4.185.440,-, uang yang disetorkan hanya Rp.1,5 juta, kurang Rp2.685.440,-

Toko UD. Karya Makmur milik saksi Dony Indarto, Nota sebanyak 3 lembar pembelian di tanggal yang berbeda, 

Rp5.837.000,- tidak disetorkan kantor.

Nota tanggal 10 Agustus 2021 dengan jumlah Rp4.232.680,-, hanya disetorkan Rp.1,5 juta kurang disetorkan sebesar Rp2.732.680,-.

Nota tanggal 16 September 2021 se jumlah Rp1.678.240,- tidak disetorkan kantor.

Dan beberapa toko lainnya yang telah membeli kayu ke UD.Sarana Bangunan, namun uang tagihan tidak disetorkan oleh terdakwa.

Terdakwa mengirimkan foto Nota kepada saksi DONY INDARTO (Doni Lik), saksi M. DUKHAN, dan saksi ZAROTIN NURONIA melalui whatsapp merupakan Nota palsu karena tidak ada tulisan Kop Toko UD. Sarana Bangunan, Uang hasil perbuatan terdakwa tersebut digunakan untuk keperluan pribadi terdakwa.

Atas perbuatan terdakwa saksi Tjio Anton Sugihartono mengalami kerugian Rp33.294.940,-. (Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper