suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Tipu Gelap Modus Isi BBM Kapal, Tan Irwan Raup Rp. 9,3 M. 2 Saksi Lembaga Negara Beda Keterangan Terkait Ijin

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Tan Irwan, menjalani sidang offline, menggunakan rompi, dengan agenda tiga orang saksi dihadirkan JPU, disiang Kartika 1 PN.Surabaya, Senin (19/09/2022).
Foto: Terdakwa Tan Irwan, menjalani sidang offline, menggunakan rompi, dengan agenda tiga orang saksi dihadirkan JPU, disiang Kartika 1 PN.Surabaya, Senin (19/09/2022).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Tan Irwan didakwa melakukan penipuan. Modusnya pengisian BBM kapal pelayaran. Akibatnya, Soetijono hingga mengalami kerugian sebesar Rp 9,3 miliar. Dengan agenda eksepsi yang diajukan pengacara terdakwa, dipimpin hakim ketua I Made Subagja, di ruang Kartika 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.Senin (19/09/2022).

Agenda sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis dan Furkon Hadi Hermawan dari Kejari Surabaya,

menghadirkan saksi Iwan Setiawan, Manager Bank Mega Cabang Darmo, Surabaya, saksi Erindo Perkasa PNS Badan Penaman Modal Asing dan saksi Priyo Sulaksono PNS Sahbandar Tanjung Perak Surabaya.

Iwan mengatakan bahwa, saat itu berdasarkan data, ada Bilyet Giro (BG) dari Bank BCA atas nama Tan Irwan, tidak dapat dicairkan dikerenakan rekening sudah ditutup.

"dari informasi ada 2 BG dan dikliring dengan tanggal yang berbeda,"kata Iwan.

Disingung apakah saksi mengetahui siapa yang menutup rekening apakah pihak nasabah atau dari pihak Bank,

"saya tidak dapat melihat, kami hanya mendapatkan informasi kalau rekening telah ditutup," jelas Iwan dihadapan Majelis Hakim.

Atas keterangan saksi terdakwa menanggapi dengan menyatakan, tidak pernah menutup rekening Bank BCA.

Lanjut Erindo menjelaskan bahwa, PT. Asia Mandiri Lines, tidak terdaftar dari dua sistem yang kami telusuri. Saat kami cek melalui Online Single Submission (OSS) yang sudah terintergrasi dengan pusat dan kementrian, PT. tersebut benar belum terdaftar.

Seketika itu Penasehat Hukum terdakwa Michel menyoalkan, kapan saksi mengecek di Online Single Submission (OSS) dan apabila belum mengurus, meskipun PT. Tersebut sudah memiliki izin apakah bisa terdeteksi,"sekitar bulan September 2020 dan kalau belum melakulan migrasi (pengurusan izin) maka secara otomatis belum terditek," katanya saksi.

Sementara terdakwa menanggapi bahwa, kalau PT. Asia Mandiri Lines sudah terdaftar di Tolitoli.

Lanjut keterangan saksi Priyo Sulaksono yang pada intinya menyatakan bahwa, PT. Asia Mandiri Lines memiliki izin atas nama Tan Irwan dari beberapa kapal Asia Pesona dan Mitra Utama, untuk yang satunya sudah dijual.

"Untuk Tonase Kotor Asia Pesona 147 dan Mitra Utama 34," kata Priyo.

Sebelum menuntup persidangan Majelis Hakim memerintahkan kepada JPU untuk menghadirkan saksi korban yakni Soetijono.

Terpisah penasehat hukum terdakwa, Michel menjelaskan bahwa, terkait penutupan rekening Bank BCA, sesuai keterangan klien kami, bahwa tidak pernah menutup rekeningnya dan perlu diperhatikan bahwa, pada tahun 2000 usaha-usaha milik terdakwa berupa pelabuhan atau dermaga, hotel dan sebagainya, yang di Palu terkena gempa.

"Dan kita ketahui bersama, apabila terkena gempa dan Tsunami (bencana alam) asuransi tidak keluar, jadi disini jelas terdakwa benar memiliki usaha dan berizin, bukannya meminta-minta pinjaman dengan cara menipu." Kata Michel selapas sidang di ruang Kartika 1 PN Surabaya.

Peristiwa penipuan tersebut bermula saat Tan berkenalan dengan korban pada 2007. Ketika itu, terdakwa Tan mengaku punya usaha pelayaran angkutan kapal dengan nama PT. Asia Mandiri Lines dan PT. Asia Mandiri Palu Prima. 

Kemudian keduanya kembali bertemu. Tan lalu menawarkan kerjasama usaha pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) kapal dengan menyertakan modal. Ketika itu Tan mengatakan kepada Soetijono akan memberikan keuntungan sebesar 2 % setiap bulannya.

"Selain itu setiap penyertaan modal terdakwa akan memberikan warkat berupa cek atau Bilyet Giro (BG) senilai uang yang diberikan dan warkat dapat dicairkan dalam jangka waktu satu bulan setelah penyerahan uang," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Furkon Adi Hermawan saat membacakan dakwaannya, Selasa (23/08).

Untuk menyakinkan Soetijono, terdakwa menyerahkan cek/BG Bank BCA dan Bank Antar Daerah (Anda) atas nama PT. Asia Mandiri Lines dan Tan Irwan kepada Soetijono. 

Terdakwa telah mengetahui bahwa dalam rekening bank penerbit cek/BG dimaksud sebenarnya tidak tersedia dana.Terdakwa tetap memberikan warkat kepada saksi Soetijono tanpa memberikan tanggal jatuh tempo dengan harapan Soetijono percaya dan bersedia memberikan dananya kembali kepada Terdakwa. 

Soetijono tergerak hatinya menyerahkan uang untuk usaha pengisian BBM kapal yang keseluruhannya berjumlah Rp.9,3 miliar kepada Terdakwa secara bertahap melalui BG Bank Maspion atas nama Soetijono.

Setelah terdakwa menerima uang tersebut, ternyata tidak ada realisasi pemberian bunga sebagaimana dijanjikan terdakwa kepada Soetijono. Saat dicairkan, 10 Cek/BG yang diberikan terdakwa senilai uang yang diserahkan korban Soetijono ternyata tidak ada dananya.

"Ketika cek/BG akan dikliringkan/dicairkan justru ada penolakan dari pihak Bank yang menyatakan bahwa rekening bank penerbit cek/BG telah ditutup.

PT. Asia Mandiri Lines yang beroperasi di wilayah Kota Surabaya yang selama ini diakui milik terdakwa ternyata tidak terdaftar dalam data base Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Surabaya.

Sampai sekarang, saksi Soetijono belum menerima keuntungan dan uang pengembalian atas penyertaan modal yang diserahkan kepada terdakwa.

Atas perbuatannya terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper