suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Gelapkan Uang Perusahaan Rp. 153 Juta Selama 4 Tahun, Evita Nabila Dihukum 12 Bulan Penjara

avatar suara-publik.com
Foto: Suasana sidang agenda putusan hakim dengan terdakwa Evita Nabila secara online di Ruang Garuda 1, PN Surabaya.
Foto: Suasana sidang agenda putusan hakim dengan terdakwa Evita Nabila secara online di Ruang Garuda 1, PN Surabaya.
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara pidana penggelapan uang perusahaan senilai Rp.153 Juta yang dilakukan oleh Terdakwa Evita Nabila secara berlanjut selama empat tahun, terdakwa Evita hanya dapat tertunduk lesuh saat majelis hakim Suswanti menghukum dengan pidana 1 tahun penjara, diruang Garuda 1 PN Surabaya.

"Menyatakan, terdakwa Evita Nabila terbukti bersalah melakukan penggelapan dalam jabatan. Menuntut, terdakwa dengan hukuman selama 1 tahun penjara," kata hakim Suswanti membacakan putusannya.

Putusan hakim dikurangkan selama terdakwa berada dalam tahanan, menyatakan terdakwa tetap ditahan.

Barang bukti seluruhnya tetap terlampir dalam berkas dalam persidangan.

Putusan hakim lebih ringan dari tuntutan JPU Deddy Arisandi, dengan tuntutan 1 tahun dan 6 bulan penjara.

Terhadap putusan hakim, tedakwa Evita Nabila menyatakan menerima, " saya menerima yang mulia ," katanya.

Perkara itu bermula sejak Februari 2022 lalu. Terdakwa yang merupakan karyawan di PT. Best Mega Industri (PT. BMI), rupanya telah melakukan penggelapan sejak awal mula bekerja, yakni sejak 5 September 2018.

Sebelum dibui, terdakwa bertugas sebagai Staf Keuangan yang memiliki tupoksi untuk menyimpan, menerbitkan faktur, menerima uang setoran dari yang disetorkan kepada kolektor, pemasaran, hingga penjualan dan selanjutnya uang tersebut dimasukkan ke dalam pembukuan PT. BMI.

Selain itu, terdakwa juga bertugas membuat tanda terima berupa laporan harian. Selanjutnya, uang yang diterima seluruhnya, seyogyanya dimasukkan ke dalam rekening pusat dengan cara transfer ke rekening PT. BMI.

Dalam melancarkan aksinya, terdakwa menerima pembayaran dari pelanggan yang diterima oleh kolektor, pemasaran, dan penjualan. Baik secara cash on delivery (cod) mau pun transfer. 

Namun, dalam penerapannya, setiap uang yang diterima, tak disetor oleh terdakwa. Melainkan, digunakan untuk membayar pinjaman online atau keperluan pribadi lainnya tanpa sepengetahuan PT. BMI.

Namun, aksinya itu terbongkar ketika pimpinannya, Lie Chiu Yuna melakukan audit masal dan detail pada September 2021 di kawasan Kalisari I nomor 27 Surabaya. Saat kontrol stok barang, ia mempertanyakan perihal pertanggungjawaban keuangan.

Berdasarkan investigasi tersebut, Lie menemukan banyaknya pelanggan yang jatuh tempo pembayaran. Bahkan, melebihi 3 bulan.

Kemudian, Lie menghubungi satu persatu pelanggan yang sudah lewat jatuh tempo pembayarannya. Tetapi, data pelanggan yang terdapat pada sistem tersebut, hampir 70% tidak dapat dihubungi. 

Lie pun tak putus asa dan mencari jalan lain. Akhirnya, didapatkan bukti dari para pelanggan jika para nasabah telah membayar secara tunai mau pun transfer kepada salah sagu stafnya yang bertugas sebagai juru tagih atau Collector.

Dari situ lah, aksi licik terdakwa mulai tercium. Lalu, pada 17 Desember 2021, terdakwa diminta membuat pengakuan secara tertulis mau pun video jika telah menggunakan uang perusahaan sebesar Rp 153.564.835. Bahkan, ia juga menyebutkam cara mengambil uang setoran dari kolektor dengan sistem gali lubang tutup lubang dengan memutar uang yang digunakan untuk kepentingan pribadi tanpa seijin perusahaan.

Akibat ulahnya itu, terdakwa dikenakan Pasal 374 KUHP terkait penggelapan.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper