suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Tabrak Penyeberang Jalan Hingga MD, Wahyu Hadi Hanya di Hukum 1 Bulan Penjara

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Wahyu Hadi Dharma Wiranto tidak menggunakan rompi tahanan, menjalani sidang agenda putusan hakim, diruang Garuda 2 PN.Surabaya, Selasa (17/01/2023).
Foto: Terdakwa Wahyu Hadi Dharma Wiranto tidak menggunakan rompi tahanan, menjalani sidang agenda putusan hakim, diruang Garuda 2 PN.Surabaya, Selasa (17/01/2023).
suara-publik.com leaderboard

Surabaya, suara publik - Sidang perkara pidana kecelakaan lalulintas (Lakalantas) dengan mengendarai kendaraan sepeda motor cara kebut- kebutan dijalan sehingga aksi itu menewaskan seorang wanita bernama Sulastri.

Peristiwa tersebut dialami oleh terdakwa Wahyu Hadi Dharma Wiranto bin Ngatimin, yang tidak dilakukan penahanan, digelar diruang Garuda 2 PN.Surabaya, secara offline.Selasa (17/01/2023).

Karena tidak terimanya perbuatan terdakwa Wahyu, keluarga korban menjadinya sebagai terpidana dalam perkara Laka Lantas.

Dalam agenda pembacaan putusan oleh ketua majelis hakim, Mengadili Menyatakan terdakwa Wahyu Hadi Dharma Wiranto bersalah “karena kelalaiannya mengemudikan kendaraan bermotor yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia” Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 310 ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Dakwaan JPU.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Wahyu Hadi Dharma Wiranto berupa pidana penjara selama 1 (satu) bulan, dikurangkan seluruhnya selama ditahan,namun terdakwa belum ditahan sampai putusan hakim Dibacakan.

Menyatakan barang bukti, 1 Unit sepeda motor Honda No. Pol S-4667-ABI beserta STNK nya, Dikembalikan kepada saksi Rio Hassby Assidyq.

1 SIM an.Wahyu Hadi Dharma W.

Dikembalikan kepada terdakwa.

Putusan hakim sama (conform) dengan penuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi dari Kejari Surabaya, dengan pidana penjara 1 bulan.

Pada sidang sebelumnya saksi Sarina Rulita ibu kandung terdakwa, membenarkan putranya telah menabrak dan mengakibatkan korban luka berat, hingga meninggal dunia.

Namun, ia mengaku kecewa lantaran pihak keluarga korban meneruskan perkara itu ke jalur hukum. Meski, ia dan keluarga telah meminta maaf dan serta menyatakan siap bertanggungjawab.

"Saya sudah bertemu keluarga (korban), saya meminta agar keluarga korban (Sulastri) mau memaafkan anak saya, saya sudah memohon ke mereka," kata Sarina.

Sarina mengaku, keluarga korban telah memaafkan. Namun, ia kecewa lantaran proses hukum tetap dilanjutkan."Saya mohon ke keluarga korban, anak saya tidak sengaja dan saya berdoa agar ibu Sulastri diterima disisiNya," ujarnya sambil terisak.

Salah satu perwakilan dari keluarga korban, Tedjo, Perihal permohonan maaf dan proses hukum tetap berlanjut, ia mengamininya. "Saya jelaskan, saya memang sudah memaafkan, tapi proses hukum biar tetap berjalan dan memperoleh keadilan," tuturnya. 

Ia menegaskan, hal itu bukan karena permohonan maaf semata. Melainkan, tak ada bantuan sepeser pun dari keluarga korban untuk membantu biaya pengobatan dan pertemuan dengan seluruh keluarga korban.

"Lalu, kami juga tidak ada bantuan apa pun ke RS. Semeninggal korban, tidak ada dan belum pernah sama sekali diberikan santunan itu, saya tidak ingin juga ada santunan dan biarkan saja hukum tetap berjalan, sebab semua biaya di cover BPJS kecuali ambulance dan visum, bayar sendiri," katanya.

Hal itu bermula pada Minggu (3/7/2022) malam sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu, Wahyu mengemudikan sepeda motor Honda Scoopy dengan nopol S 4667 B sembari berboncengan dengan pemiliknya, Rio Hasbi Assidqy.

Keduanya berkendara sekitaran Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari menuju ke Stasiun Pasar Turi. Lantaran terburu-buru dan segera ingin pulang kampung ke Bojonegoro, Wahyu mengemudikan sepeda motor di Jalan Kalianyar Surabaya, tepatnya dari Timur menuju Barat dengan kecepatan 50 KM/jam atau melebihi batas maksimal di kota Surabaya.

Nahas, saat hendak mendahului mobil Honda HRV dengan nopol M 1780 VH yang berada di sisi kanan kendaraan Wahyu, ia melihat ada seorang wanita yang bernama Sulastri. Jaraknya, sekitar 3 sampai 4 meter dari Wahyu.

Saat itu, Sulastri akan menyeberang jalan dari arah Utara ke Selatan. Spontan, Wahyu berupaya mengerem dan menghentikan lajunya.

Namun, upaya Wahyu sia-sia lantaran jaraknya dengan Sulastri terlalu dekat. Karena kecepatan tinggi dan kurang hati-hati, Wahyu menabrak Sulastri.

Akibatnya, badan bagian kiri Sulastri tertabrak setir bagian kanan kendaraan Wahyu. Seketika, Sulastri terjatuh dan mengeluarkan darah dari kepala belakang dan tak sadarkan diri.

Selanjutnya, Sulastri yang saat itu tak sadarkan diri, dibawa mobil ambulance menuju ke RSUD Dr. Soewandhie Surabaya. Keesokan harinya, pada Senin (4/7/2022) dinihari sekitar pukul 03.15 WIB, dokter yang menangani Sulastri menyimpulkan bila mengalami cedera otak berat yang disebabkan oleh persentuhan benda tumpul. Meski sempat dirawat dan mendapat pertolongan, namun Sulastri meninggal dunia. Lalu, Sulastri dimakamkan pada hari itu juga di Pemakaman Rangkah, Surabaya.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper