suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Tidak Setorkan Uang Tagihan Ekspedisi PT.Dua Satu Ekspres Sebesar Rp.124 Juta, Susanti Staf Admin Di Bui

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Susanti binti Sarnen (alm), menjalani sidang diruang Garuda 2 PN.Surabaya, secara vidio call.
Foto: Terdakwa Susanti binti Sarnen (alm), menjalani sidang diruang Garuda 2 PN.Surabaya, secara vidio call.
suara-publik.com leaderboard
Surabaya, suara publik - Sidang perkara pidana penggelapan dalam jabatan pada perusahaan yang bergerak di bidang Ekspedisi sebesar Rp 124 juta, dengan modus uang tagihan tidak disetorkan ke perusahaan, dengan Terdakwa Susanti binti Sarnen (alm), diruang Garuda 2 PN.Surabaya, secara vidio call.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suparlan Hadiyanto, dari Kejari Surabaya, menyatakan terdakwa Susanti telah melakukan tindak pidana, "dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena mendapat upah untuk itu,"

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHP Jo pasal 64 Ayat (1) KUHP, Atau :

Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHPidana Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

Dua orang saksi dihadirkan oleh JPU Suparlan, yakni, Nia staf perusahaan yang mendapatkan kuasa dari.pimpinan untuk melaporkan terdakwa Susanti, saksi Kusmianto.

Saksi Nia mengatakan dirinya melaporkan Susanti mendapat kuasa dari pimpinan PT Dua Satu Ekspres, " Saya melaporkan mendapat kuasa melapor dari pimpinan PT, memang telah terjadi pemotongan gaji susanti sebanyak 5 kali untuk.mengganti kerugian perusahaan sebesar Rp.124 juta, janjinya sampai bulan November 2022, namun tidak terealisaikan," jelas saksi,Rabu (13/06).

Saksi Kusmianto menerangkan resi pengiriman sebagai tanda terima, dan ada tulisan uang telah diterima oleh Susanti," itu tanda tangan Susanti pak, " katanya.

"Ada peristiwa penggelapan kok opini yang menjadi hutang piutang, kerugian 124 juta, apakah terdakwa pernah meminjam uang gak,"tanya Jaksa Suparlan kepada saksi Nia.

" Kalau.meminjam dsn meminta tidak pernah pak, tapi antara ulang April sampai mei 2021, terdakwa menerima setoran tapi tidak disetorkan ke perusahaan pak," terang saksi Nia.

" laporan saya tanggal 6 Maret, 2023, uang digelapkan oleh susanti selama 5 bulan, namun perusahaan masih baik, susanti masih disuruh bekerja untuk.mengganti uang yang dipakainya," tambah saksi.

Sidang akan dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda Dua saksi dari JPU.

Diketehui, Terdakwa Susanti sebagai karyawan PT Andalan Dua Satu Ekspres, jalan Jemur Andayani 50, ruko Surya Inti Permata.Yang bergerak dibidang Ekspedisi,sejak tahun 2018, menjabat sebagai Admin Cash colege, mendapatkan gaji sebesar Rp. 5.125.000,/ bulan.

Tugas terdakwa bertanggung jawab melayani costumer yang akan.mengirim barang, menerima uang Cash dari Costumer dsn setoran Cash dari gudang 88.Sedati Sidoarjo.Selanjutnya disetorkan ke Rekening PT. Andalan Dua Satu Ekspres Surabaya.

Selanjutnya antara bulan April 2020 sampai dengan bulan Maret 2021,terdakwa Susanti Binti Sarnen telah menerima uang secara bertahap dari saksi Junik Widiantoro dan saksi Roesmianto, merupakan karyawan Counter cash atau kasir di PT. Andalan Dua Satu Exspres cabang pergudangan 88 Sedati Sidoarjo masing masing dengan total sebesar Rp. 4.300.000,- dan jumlah sebesar Rp. 110.055.190,-.

Terdakwa juga menerima pembayaran cash dari costumer pengiriman barang sebesar Rp. 10.211.600,-.Seluruh uang itu tidak disetorkan ke rekening PT Dua Satu Ekspres,namun terdakwa pergunakan untuk kepentingan pribadi. Sehingga mengakibatkan PT. Dua Satu Expres mengalami kerugian sebesar Rp. 124.566.790,-.(Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper