suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Gelapkan Uang Tagihan, Ganti Nama Vendor dan Rekening Fiktif, PT. YLI Merugi Rp 138 Juta, Minarti, SE, Dihukum 24 Bulan Bui.

avatar suara-publik.com
suara-publik.com leaderboard

SURABAYA, (suarapublik.com) - Sidang perkara pidana Penggelapan dengan cara membuat payment approval secara fiktif, menggunakan nama vendor lain, mengganti norek tujuan dengan menempel kertas yang diketik dengan nama vendor dan norek lain, sehingga PT. Yonaga Logistik Indonesia jalan Margomulyo No. 63 Surabaya, mengalami kerugian sebesar Rp.138 juta, denganTerdakwa Minarti,SE Binti Midiyanto, diruang Garuda 1 PN.Surabaya, secara online.

Dalam agenda putusan hakim ketua Suswanti membacakan putusan, Mengadili, Menyatakan, Terdakwa Minarti,SE Binti Midiyanto terbukti bersalah melakukan tindak pidana “penggelapan dalam jabatan” Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHPidana, dalam dakwaan pertama JPU.Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karenanya dengan pidana penjara selama 2 Tahun, Dikurangkan selama Terdakwa ditahan, menyatakan terdakwa tetap dalam tahanan.

Menyatakan barang bukti, keseluruhan yang digunakan dalam persidangan, Tetap terlampir Dalam Berkas Perkara.Putusan hakim.lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewi Kusumawati, yang menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun dan 6 bulan.

Diketahui, Terdakwa Minarti merupakan karyawan PT. Yonaga Logistik Indonesia di jalan Margomulyo No. 63 Surabaya, bergerak di bidang Jasa logistic pengiriman barang, yang bekerja sejak 20 September 2019 sampai dengan 21 Desember 2022. Terdakwa mendapat gaji sebesar Rp3.825.000,00,-, dan uang makan sebesar Rp 390.000,00,-./ bulan.Sebagai kasir Terdakwa memiliki tugas mengelola uang kas operasional PT. Yonaga Logistik Indonesia, melakukan pembayaran ke vendor serta melakukan pembayaran uang jalan kepada sopir.

SOP yang terdapat dalam perusahaan adanya tagihan dari vendor, invoice atau surat tagihan dari vendor diterima oleh bagian purchasing/pembelian lalu diserahkan kepada Terdakwa selaku kasir untuk diserahkan kepada bagian admin accounting saksi Annisa Fadilatur Rohma, A.Md untuk dibuatkan payment approval. Setelah payment approval selesai dibuat dengan surat tagihan dari vendor, saksi Annisa memberikan kembali ke Terdakwa selaku kasir untuk melakukan pembayaran secara transfer melalui M-Banking dari rekening perusahaan ke rekening Vendor.Selanjutnya setelah transfer, bukti transfer berikut payment approval, invoice serta surat tagihan dari vendor diserahkan kembali kepada Annisa untuk di input ke dalam pembukuan transaksi uang keluar.

Saksi Ivan Yonaga Santoso selaku Komisaris PT. Yonaga Logistik Indonesia mendapatkan laporan dari saksi Annisa selaku admin accounting, dimana setiap akhir tahun membuat laporan pembukuan keuangan bank, belum bisa dilakukan dikarenakan ada uang keluar dari rekening perusahaan yang belum dilengkapi dengan payment approval dan invoice.

Saksi Annisa menanyakan kepada Terdakwa, dan dijanjikan akan memberikan payment approval serta invoice yang diminta,namun tidak kunjung diberikan. Pada hari Sabtu tanggal 17 Desember 2022 saksi Khusnul Khotimah,S.Ak, bagian supervisor accounting mencari kelengkapan administrasi yang diminta saksi Annisa, di laci meja Terdakwa ditemukan 1 payment approval Yonaga Logistik Indonesia, Supplier name Universal Teknik, nama rekening Nelly Tri Wahyuni,sebesar Rp 26.326.000,00

Pada Hari Senin tanggal 19 Desember 2022 kembali ditemukan di meja Terdakwa 1 payment approval Yonaga Logistik Indonesia, Supplier name Universal Teknik, nama rekening Nelly Tri Wahyuni,sebesar Rp102.267.000,-Selanjutnya saksi Khusnul Khotimah dan saksi Annisa, melakukan pengecekan sistem, dikarenakan tidak pernah membuat payment approval yang ditemukan di laci meja Terdakwa.Selanjutnya Terdakwa Minarti dipanggil ke PT. Yonaga Logistik Indonesia dan mengakui apabila telah membuat payment approval secara fiktif. Akibat perbuatan yang dilakukan Terdakwa, PT. YONAGA LOGISTIK INDONESIA mengalami kerugian Rp138.978.000,-. (Sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper