suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Modus Hartini Dindik Jatim Tipu Jual Beli Dua Bidang Tanah dan Rumah di Trawas Mojokerto, JPU Hadirkan Pembeli Sertifikat dan Makelarnya

avatar suara-publik.com
Foto : Saksi Alim Sudarsono makelar, dan saksi Legiman selaku pembeli sertifikat, dihadirkan JPU dipersidangan.
Foto : Saksi Alim Sudarsono makelar, dan saksi Legiman selaku pembeli sertifikat, dihadirkan JPU dipersidangan.
suara-publik.com leaderboard

SURABAYA, (suarapublik) - Sidang perkara pidana Tipu Gelap, dengan modus menjual rumah di Dusun Jara'an RT 01 RW01 Desa Trawas Kecamatan Trawas Mojokerto dengan harga Rp 250 juta kepada korbannya Suudiyah yang juga ibunda salah satu musisi grup band Padi.Tidak hanya rumah yang ditawarkan, ditawarkan juga dua bidang tanah tegalan di Desa Penanggungan Kec.Trawas Kab.Mojokerto, seharga Rp.80 juta, alih-alih mendapatkan rumah dan tanah yang telah dibelinya, ternyata hanya tipuan belaka, dengan Terdakwa Hartini (48) merupakan ASN di Dinas Pendidikan Jawa Timur, menjabat sebagai Kabag.TU, diruang Tirta 2 PN.Surabaya, secara online, Kamis (20/07/2023).

Dalam dakwaannya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Indira Koesuma Wardhani dan Darmawati Lahang, dari Kejati Jatim, menyatakan bahwa terdakwa Hartini telah melakukan tindak pidana "Menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memakai nama palsu, martabat palsu , dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan menggerakan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau memberi hutang maupun menghapuskan piutang" Sebagaimana diatur dan diancam pidana  dalam   pasal 378  KUHP. Atau : Sebagaimana diatur dan diancam pidana  dalam   pasal 372  KUHP.

Sidang kali ini JPU menghadirkan saksi Alim Sudarsono sebagai makelar, dan saksi Legiman selaku pembeli jaminan sertifikat milik terdakwa Hartini. Legiman mengatakan perkwnalannya dengan Hartini dikenalkan oleh Alim Sudarsono, " Saya diajak ke Mojokerto, diajak.makan oleh Hartini, mengatakan kepada Alim kalau dirinya butuh uang 100 juta, barangkali saya bisa bantu untuk usahanya,Hartini bermaksud pinjam uang 100 juta dengan jaminan sertifikat rumah luasnya 200 m2 di Trawas Mojokerto," terangnya.

Karena sebagai jaminan hanya Sertifikat SHM 956, lalu Legiman membawa ke Notaris, disetujui oleh Hartini.Perjanjiqn yang dibuat di Notaris adalah perjanjian Ikatan Jual Beli (IJB), kalau nanti usahanya lancar katanya mau ditebus kembali, namun dalam perjanjian hanya 6 bulan, namun lebih 6 bulan tidak ada kabar dari Hartini." Katanya. Saksi Alim Sudarsono yang berprofesi sebagai makelar menerangkan, awalnya saya tahu dari Sosial Media kalau ada rumah dijual letaknya di Trawas.Namun sertifikat rumah tersebut sedang dijaminkan ke PT.PNM Unit Ngoro Cabang Mojokerto," awalnya tau di medsos ada rumah dijual di Trawas, pertama saya datang sendiri ke lokasi, saya lihat fisik rumahnya, saat itu ditunjukan sertifikat fotocopy, yang asli masih dijaminkan ke PNM, mojosari, sertifikat atas nama Hartini, saya cocokan juga dengan KTP nya, dijaminkan gak sampai 100 juta kok," terang saksi.

Menurut saksi, uang diterima oleh Hartini dikirim melalui transfer, uang tersebut diserahkan ke PNM, kepada Legiman Hartini berjanji 6 bulan akan diambil kem ali sertifikatnya.Terjadi pelunasan 17 juta di PNM uang sisanya diserahkan kepada Hartini. " waktu menyerahkan uang 100 juta lewat transfer, lalu dibuat bayar ke PNM, sertifikat nya keluar diserahkan ke Notaris Joice Irene Takatobi,SH,MKn,menjadi IJB dan kuasa menjual dan di tandatangani. 

Sadek penasehat hukum terdakwa menanyakan Legiman apakah uang yang diberikan 100 juta itu sifatnya uang pinjaman atau pembelian rumah di Trawas, namun jawaban saksi Legiman diambil alih oleh saksi Alim, " begini pak, niat awal bu Hartini adalah menjual rumah tersebut, lalu saya carikan pembelinya, saya kenalkan dengan pak Legiman," ujar Alim. "Saya tanya ke pak legiman, anda diam dulu," kata Sadak dengan ketus. " waktu bertemu bu Hartini, bilangnya pinjam uang 100 juta, jaminannya fotocopy sertifikat, karena yang asli sedang dijaminkan, karena gak ada payung hukumnya, maka saya bawa ke Notaris, bunyi katanya jual beli, 6 bulan kedepan katanya akan diambil lagi, tapi sampai setahun belum diambil, sertifikat sudah diambil, tapi dititipkan di kantor Notaris," jelas Legiman.

"Setelah setahun hartini telpon untuk ketemuan dengan saya dan Alim, di Cafe daerah kebun bibit, sudah disiapkan uang 100 juta, lalu saya terima, Nominalnya 100 juta dibeli lagi 100 juta, jadi gak ada keuntungan buatvsaya, cuma pas nilai aja." tambah Legiman. Kedua saksi yang dihadirkan, tidak.mengetahui, bahwa dibelakang hari terjadi perkara pidana yang menjerat Hartini terkait penipuan dan penggelapan. "Bagaimana terdakwa, atas keterangan kedua saksi ini," tanya hakim, "Saya tidak menjual rumah, tapi saya meminjam uang kepada pak Legiman untuk modal usaha, Sertifikat memang sedang saya jaminkan,saya pinjam untuk mrmbayar ke Bank, agar rumah saya tdk disita.Utang saya 150 juta, bukan 100 juta, sudah saya cicil 60 juta, sisanya 80 juta." terang Hartini.

Sidang akan dilanjutkan pada kamis pekan depan, masih agenda saksi dari JPU. Berawal bulan Desember 2014, terdakwa Hartini bersama Bambang Hadiyanto ( saat itu masih suami terdakwa), datang ke rumah saksi korban Suudiyah di jalan Rungkut Mejoyo Utara KK /8 RT.010 RW 004 Kel. Kalirungkut Kec.Rungkut Surabaya, menawarkan rumah di Dusun Jara’an RT 01 RW 01 Desa Trawas Kec.Trawas Kab.Mojokerto  SHM No. 956  dengan harga  Rp. 250.000.000,- milik Dwi Prasetyo Yudo, SHM an.Dewi Diah Ningrum.

Sepakat membeli cara patungan antara  Bambang Hadiyanto dengan saksi Suudiyah, obyek bersebelahan rumah Bambang Hadiyanto, terdapat pintu penghubung antara rumah Bambang dengan rumah yang ditawarkan, terdakwa mengatakan pembayaran dapat dilakukan bertahap, sehingga saksi korban Suudiyah tertarik membeli dan memberikan uang Rp.99.000.000,-kepada terdakwa pembayaran cara bertahap melalui transfer dari rekening BCA Suudiyah ke rekening BCA milik terdakwa Hartini.

dengan perincian :

Tanggal 6 Januari 2015 Rp, 50.000.000,-

Tanggal 14 Januari 2015 Rp. 25.000.000,- dan

Tanggal 15 Januari 2015 Rp. 24.000.000,-

Total pembayaran Rp. 99.000.000,- , masuk ke rekening terdakwa. Suudiyah kasihan membebani Bambang adiknya yang masih suami sirih terdakwa Hartini, maka diputuskan membeli sendiri rumah tersebut, dan melunasi, menyerahkan uang sebesar Rp.160 Juta kepada Bambang, diberikan  secara bertahap :

Pertama tanggal 5 Juli 2015 Rp. 50.000.000,-

Kedua tanggal 7 Juli 2015 Rp. 110.000.000,- secara tunai, oleh Bambang Hadiyanto diserahkan kepada terdakwa Hartini istri sirihnya. Sehingga rumah di Dusun Jara’ an RT 01 RW 01 Desa Trawas Kec.Trawas Kab.Mojokerto sudah lunas dengan harga Rp.250 juta. Terdakwa Hartini minta tambahan Rp.9 juta untuk komisi Anik Sundayani dan perbaikan Galvalum teras rumah.

Di bulan Desember  2014  terdakwa menawarkan lagi 2 bidang tanah tegalan berlokasi di Desa Penanggungan Kec.Trawas Kab.Mojokerto Desa Tamiajeng Kec.Trawas Kab.Mojokerto dengan harga Rp.80.000.000,-Sepakat membeli patungan, masing-masing Rp.40 juta, pembayaran cara bertahap,saksi korban Suudiyah tergerak lagi melakukan pembayaran cara transfer ke rekening terdakwa Hartini, Tanggal 31 Maret 2015 Rp. 14.500.000,- , Tanggal 10 April 2015 Rp.5.500.000,-, Tanggal 30 April 2015 Rp.5.000.000,- Tanggal 02 Maret 2016 Rp. 10.000.000,-

Tanggal 01 Juli 2016 Rp. 5.000.000,- Total pembayaran tanah tegalan Rp.40.000.000,-.

Suudiyah percaya kepada terdakwa Hartini karena menjadi istri siri adik kandungnya Bambang Hadiyanto. Suudiyah menghubungi terdakwa Hartini melalui telepon dan WA menanyakan proses balik nama Sertifikat No SHM 956, terdakwa alasan menunggu saksi Dewi Diah Ningrum,karena SHM an.Dewi Diah Ningrum. Akhir Tahun 2015 saksi korban Suudiyah mendapatkan informasi dari Bambang adiknya bahwa rumah tersebut telah dijaminkan ke PT.PNM (Permodalan Nasional Madani Unit Ngoro ) Cabang Mojokerto, tanggal 14 September 2015, mengajukan kredit investasi sebesar Rp. 150.000.000,- Dengan menjaminkan  SHM no.956,  pengajuan atas nama Dewi Diah Ningrum, dengan alasan masih proses balik nama ke terdakwa Hartini dengan  menyertakan Akta jual beli No.134 / 2015 tanggal 03 September 2015 antara terdakwa Hartini selaku pembeli dan Dewi Diah Ningrum selaku penjual, pada Notaris Sugiman , SH.M.Kn di Mojosari Mojokerto.

Setelah terdakwa didesak untuk balik nama sertifikat ke Suudiyah, pada tanggal 1 April 2017 Suudiyah membuatkan surat pernyataan pembelian rumah tinggal dan pemberian kuasa AJB ( Akta Jual Beli ) diatas materei 6000 yang ditandatangani oleh terdakwa dan disaksikan oleh saksi Anik Sundayani. Namun  tanpa sepengetahuan dan persetujuan saksi korban Suudiyah, terdakwa telah membalik nama sertifikat dari Dewi Diah Ningrum ke namanya sendiri, hingga sertifikat terbit atas nama terdakwa Seharusnya menjadi an. saksi korban Suudiyah sebagai pembeli.

Terdakwa Hartini menjaminkan SHM No.956 Rp.150.000.000,- ke Legiman, disertai pengikatan jual beli No .209 tanggal 13 September 2017 dan kuasa menjual No.210 tanggal 13 September 2017 yang dikeluarkan oleh Notaris Joice Irene Takatobi,SH,MKn Mojokerto. Tanggal 24 April 2018, Suudiyah mendatangi Hartini di kantornya Kantor Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Kab. Mojokerto, menanyakan sertifikat rumah SHM No.956, terdakwa Hartini berjanji mengembalikan uang pembelian rumah tersebut seharga Rp.250 Juta.Juga pembelian tanah tegalan Rp.40 juta dengan sebuah surat pernyataan, namun kenyataannya sampai sekarang belum mengembalikan. Akibat perbuatan terdakwa Hartini saksi korban Suudiyah mengalami kerugian  Rp.339.000.000,- (sam)

 

 

 

 

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper