suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

MODUS JANJIKAN SLONGSONG PELURU KUNINGAN 50 TON, KEMPLANG UANG DP Rp 170 JUTA, CAHYO WAHYU UTOMO BABLAS BUI

avatar suara-publik.com
suara-publik.com leaderboard

SURABAYA, (suarapublik.com) - Sidang perkara pidana Penipuan dan Penggelapan uang muka (DP) pembelian Slongsong Peluru dari kuningan milik PT.PINDAD Malang.
seberat 50 Ton, harga perkilo Rp 35 ribu, total harga Rp 1.750.000.000,-,
Yang hanya modus Penipuan, PT.Kairos Logam Makmur merugi hingga Rp.170 juta, dengan Terdakwa Cahyo Wahyu Utomo bin Karyo (31) asal Pati Jateng, diruang Kartika 1 PN.Surabaya, dipimpin ketua majelis hakim R.Yoes Hartyarso secara online, Rabu (09/08/2023).

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Herlambang Adhi Nugroho, dari Kejari Tanjung Perak,
Menyatakan terdakwa Cahyo Wahyu Utomo telah melakukan tindak pidana,“menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum, memakai nama palsu, martabat palsu, tipu muslihat, rangkaian kebohongan menggerakan orang menyerahkan barang sesuatu kepadanya, supaya memberi hutang, menghapuskan piutang” Sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 378 KUHP. Tentang Penipuan." Atau:
"Sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 372 KUHP. Tentang Penggelapan"

Sidang kali ini, JPU menghadirkan lima saksi yang memberikan keterangan dipersidangan, yakni saksi Arief Gunawan Staf pembelian PT Kairos Logam Makmur, Hudino Salim bagian keuangan, Handy Salim sebagai pimpinan perusahaan, Damar sebagai staf dan Willianto dari PT PINDAD Malang, kelima saksi diperiksa secara bersama-sama.

Saksi Arief Gunawan mengatakan kalau bertemu Terdakwa Cahyo Wahyu pada bulan Maret 2019, namun di bulan Juni Terdakwa menawarkan slongsong peluru dari kuningan milik PT.PINDAD Malang.
" Bulan Juni menawarkan slongsong peluru milik PT.Pindad, dia.mengaku mengenal orang dalam PT.Pindad, saat itu dia menunjukan surat penjualan dari PT.Pindad,ditanda tangani Agus Irianto dari bagian Amunisi,PT.Kairos mentranfer uang DP awalnya 100 juta, diketahui Pimpinan, dan ditranfer melalui bagian keuangan pak Hudiono Salim," terang saksi Arief.

Arief menambahkan kalau perusahaannya telah mentranfer total.ke rekening Terdakwa sebesar Rp.170 juta.Dari pemberian uang cash 20 juta, oleh terdakwa dikembalikan 15 juta, Terdakwa juga memberikan surat asli dari Devisi Aminisi " Totalnya 170 juta, yang terakhir pernah diberi cash 20 juta, dan dikembalikan Terdakwa 15 juta, surat itu asli dari Devisi Amunisi PT.Pindad, gak.main- main, tapi tidak ada pengiriman sampai dengan hari ini, dan uang perusahaan tidak kembali sampai sekarang," tambah saksi.

Saat ditanyakan oleh Hakim kepada William dari PT.Pindad, apakah ada surat tanggal 20 Juli 2019,
" pihak PT.Pindad tidak pernah mengeluarkan surat tersebut yang mulia," jelasnya.

Terhadap keterangan saksi dipersidangan, dibenarkan seluruhnya oleh terdakwa " benar semuanya yang mulia," kata terdakwa.

Diketahui, pada bulan Juni 2019 terdakwa Cahyo Wahyu Utomo menelpon saksi Arief Gunawan DJ untuk menawarkan selongsong peluru kuningan bekas dari ex.PINDAD seberat 50 Ton, dengan harga perkilo Rp 35 ribu, total harga keseluruhan Rp 1.750.000.000,-,
Saksi Arief sampaikan ke pimpinannya dan disetujui oleh Handy Salim.

Diawal Terdakwa Cahyo meminta uang DP Rp 100 Juta,Arief menyampaikan ke Pimpinan dan disetujui,Terdakwa meminta uang DP ditransfer ke rekening an.Cahyo Wahyu Utomo.

Pada 05 Juli 2019 bagian keuangan Hudiono Salim, mentranfer ke Rek.an. Cahyo Wahyu Utomo sebesar Rp.100 juta.
Selanjutnya Terdakwa Cahyo datang ke PT.Kairos Logam Makmur, Pergudangan Surimulya jalan Margomulyo 44 Blok. JJ No. 15 Surabaya, menemui Arief Gunawan menyakinkan kalau barang itu ada.

Tanggal 23 Juli 2023, Terdakwa mengirim foto surat dari PT.PINDAD (Persero) dari Devisi amunisi, Surat Perintah Angkut ditujukan ke Pimpinan PT.Eben Heazer Logam Jalan KH. Dewantoro No. 2 Kec. Juwana Kab. Pati Jawa Tengah.

Saksi Arief menanyakan ke Terdakwa tentang pengirimannya ke PT.Eben Heazer Logam bukan ke PT nya,Terdakwa berkelit kalau PT Kairos tidak ada izin angkut limbah B3 maka digunakan PT. Eben Heazer Logam diakui milik temannya.

Untuk mengeluarkan barang, terdakwa meminta uang kembali Rp.20 Juta, tanggal 25 Juli 2019 Hudiono Salim kembali transfer kembali ke rekening terdakwa.
Bulan Agustus terdakwa meminta kembali uang tambahan Rp.35 juta,di transfer kembali oleh Hudiono Salim.

Saat ditanyakan saksi Arief Gunawan, kapan barang dikirim, Terdakwa mengatakan dikirim setelah ditambahkan uang DP sebesar Rp.10 juta, dan ditransfer kembali.Bulan sepetember 2019 barang belum juga dikirim, Arief menanyakan kembali kepada Terdakwa, mendapatkan jawaban yang sama.

Justru Terdakwa mendatangi PT Kairos untuk meminta kembali uang Rp 20 juta, saksi Arief Gunawan memberikan uang Cash Rp.20 juta, yang memberikan saksi Damar.

Saksi Arief meminta uang perusahaan untuk dikembalikan oleh Terdakwa, yang ternyata barang tidak datang-datang.Terdakwa Cahyo Wahyu Utomo mentransfer Rp.10 juta ke rekening saksi Arief, lalu dikirim ke rekening Hudiono.Keesokan harinya terdakwa mentransfer lagi saksi Arief sebesar Rp.5 Juta,
saksi Arief kirim ke bagian keuangan.Namun tidak pernah ada jawaban kapan dikirim barang tersebut dari Terdakwa.
Akibat perbuatan terdakwa, PT. Kairos Logam Makmur mengalami kerugian Rp 170.000.0000,-

Terdakwa Cahyo Wahyu Utomo bin Karyo (31), menjalani sidang agenda saksi, diruang Kartika 1 PN.Surabaya, secara online, Rabu, (9/8/2023). (sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper