suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Sidang Kasus Aniaya Yunior Taruna Politeknik Pelayaran Hingga Tewas, Alpard JP Dihukum 4,5 Tahun Bui

avatar suara-publik.com
Terdakwa Alpard Jales Poyono (20), menjalani sidang agenda putusan hakim, diruang Sari 2 PN Surabaya.
Terdakwa Alpard Jales Poyono (20), menjalani sidang agenda putusan hakim, diruang Sari 2 PN Surabaya.
suara-publik.com leaderboard

SURABAYA, (suarapublik.com) -Terdakwa Alpard Jales Poyono (20) menjalani sidang lanjutan kasus penganiayaan yang menyebabkan Taruna Politeknik Pelayaran tingkat I bernama M. Rio Ferdinan meninggal dunia,di ruang Tirta 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, secara online.

Dalam putusannya, Ketua Majelis Hakim PN Surabaya Widowati mengatakan, perbuatan terdakwa Alpard Jales R. Poyono terbukti secara mutlak melakukan penganiayaan kepada juniornya. Ia menjatuhkan vonis 4 tahun 6 bulan penjara kepada Alpard Jales Poyono (20).

"Mengadili, menyatakan terdakwa Alpard Jales R. Poyono terbukti bersalah melakukan penganiayaan hingga korbannya M. Rio Ferdinan Anwar meninggal dunia," kata Widowati dalam amar putusannya saat sidang dengan agenda vonis di Ruang Sari PN Surabaya, Selasa (15/8).

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 4 tahun 6 bulan penjara, dikurangkan selama terdakwa dalam tahanan, Menetapkan terdakwa tetap ditahan dalam tahanan," imbuh dia.

Widowati menjelaskan, salah satu pertimbangan vonis tersebut adalah ditemukan luka memar, lecet, dan darah pada tubuh jenazah atau korban. Bahkan sampai meninggal dunia akibat mati lemas dan pendarahan yang tak henti dari mulut korban, dipastikan karena kerasnya pukulan dari terdakwa Alpard Jales Poyono.

Widowati menerangkan beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam putusannya, yaitu hal yang memberatkan dan yang meringankan.

"Hal yang meringankan perbuatan terdakwa, sopan dalam sidang, menyesali perbuatan, masih muda, dan belum pernah dihukum. Sementara hal yang memberatkan menghilangkan nyawa orang lain," ujarnya.

Widowati menegaskan, perbuatan Jales telah terbukti dan memenuhi unsur pidana "penganiayaan yang direncanakan terlebih dahulu menyebabkan kematian" Sebagaimana diatur dalam dakwaan Pasal 351 ayat (3) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sesuai dakwaan dan tuntutan JPU.

Menyatakan barang bukti, 2 buah gelas air minum dalam kemasan. 2 lembar tissue bercak darah. 1 stel seragam PDL warna hitam. 1 potong seragam PDL Doreng Ukuran L
DIRAMPAS UNTUK DIMUSNAHKAN
1buah flashdisk berisi rekaman CCTV. 1bendel statute politeknik pelayaran Surabaya. 1bendel peraturan tata tertib taruna politeknik pelayaran Surabaya.
TETAP TERLAMPIR DALAM BERKAS PERKARA

Putusan hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Herlambang Adhi Nugroho, yang menuntut Jales, dengan pidana penjara selama 7 tahun.

JPU Herlambang menyatakan pikir-pikir terhadap putusan itu. Ia mengaku bakal menyampaikan jawaban pada pekan depan, "Pikir-pikir yang mulia," tutupnya.

Dalam dakwaan JPU bahwa hari Minggu 5 Pebruari 2023 pukul 19.30 WiB di kamar mandi Politeknik Pelayaran Gunung Anyar, Surabaya melakukan tindak pidana pengeroyokan yang direncanakan terlebih dahulu yang menyebabkan kematian.

Caranya, korban RFA dipukuli dibagian perutnya oleh terdakwa Alpard Jales Poyono dengan menggunakan tangan kanan. Hal itu membuat korban tersungkur dan jatuh ke lantai tidak bergerak.

Usai memukul, terdakwa Alpard Jales Poyono bertanya kepada korban 'ada yang sakit ta,? Kalau saki tak lihate" dan dijawab oleh korban 'tidak senior' lalu terdakwa Alpard Jales Poyono melayangkan pukulan kedua menggunakan tangan kanannya pada bagian perut atas.

Akibat pemukulan tersebut membuat korban tersungkur dan jatuh ke lantai tidak bergerak sehingga pelipis korban di bagian kanan terbentur tembok dan pipa.

Berdasarkan visum et repertum tanggal 7 Pebruari 2023, ditemukan luka memar pada leher kiri dan dada. Luka lecet pada pipi kanan dan dada, luka robek pada selaput bibir bawah kiri,luka leher kiri, kuku membiru, yang diakibatkan kekerasan benda tumpul terhadap korban RFA.

"Pergelangan kanan dan kiri tampak kebiru-biruan. Kekerasan dengan tumpul tersebut mengakibatkan tekanan pada lambung korban hingga mati lemas." kata jaksa Herlambang saat membacakan dakwaan pada sidang sebelumnya.
(sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper