suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Bos PT SBE Kemplang PT KEA Rp17,3 Miliar, Pengadilan Negeri Hukum Indro Prajitno 2 Tahun Penjara

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Indro Prajitno (51) menjalani sidang agenda putusan hakim, di ruang Garuda 1 PN Surabaya secara online, Rabu, (06/12/2023)
Foto: Terdakwa Indro Prajitno (51) menjalani sidang agenda putusan hakim, di ruang Garuda 1 PN Surabaya secara online, Rabu, (06/12/2023)
suara-publik.com leaderboard

 

SURABAYA, (suarapublik.com) - Sidang perkara pidana Penggelapan dana pemodalan pengadaan batu bara dalam jumlah besar, dengan menjanjikan keuntungan sebagai pemasok batu bara Rp35.000 - Rp50.000/ton dan pengembalian modal serta keuntungan. Kerjasama abal-abal tersebut hingga PT Kreasi Energi Alam (KEA) mengalami kerugian Rp 17.381.462.492 dengan janji keuntungan Rp2.133.238.610, dengan terdakwa Indro Prajitno (51), warga Villa Bogor Indah I Blok H5 No.19, Kelurahan/Desa Ciparigi, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Pendidikan S1, di ruang Garuda 1 PN Surabaya, secara online, Rabu, (06/12/2023).

Dalam agenda putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim, I Ketut Suarta, mengadili, menyatakan terdakwa Indro Prajitno (51), terbukti bersalah melakukan tindak pidana Penggelapan. "Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 372 KUHP." Dalam dakwaan JPU.

Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang dijalani, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, menetapkan terdakwa tetap dalam tahanan. Menetapkan barang bukti yang digunakan selama persidangan. Tetap terlampir dalam berkas perkara. 

Putusan hakim lebih ringan dari Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rachmad Hari Basuki dan Lujeng Andayani, dari Kejati Jatim, yang menuntut Terdakwa Indro Prajitno dengan pidana.penjara selama 2 tahun dan 6 bulan.

Terhadap putusan hakim, terdakwa Indro Prajitno masih menyatakan pikir-pikir, "Saya pikir-pikir yang mulia," katanya.

Demikian pula dengan JPU juga menyatakan pikir- pikir. Diketahui, PT Kreasi Energi Alam (PT KEA) di dirikan 10 April 2012, berkantor di Jalan Raya Sukomangunggal Jaya No. 28 Surabaya. Perusahaan tersebut bergerak di bidang perdagangan (trading / penjualan batubara). Salah satu pemiliknya saksi Regina Agnes Wahyu Nurhayati, menjabat sebagai Direktur.

PT Sumber Baramas Energi (PT SBE) di dirikan 07 Agustus 2017, dengan susunan pengurusnya, yakni, Johanes Handoko, ST sebagai Direktur Utama, Rudi Rizwan sebagai Direktur, Asep Nurjaman Didik Rudiansyah sebagai Direktur dan Paulus Agustinus sebagai Komisaris. Terdakwa menjabat sebagai Komisaris Utama, bergerak di bidang tambang dan trading batu bara yang berkantor di Ruko Plaza Niaga I Blok A No. 09 Kota Bogor.

Pada tahun 2017 di Super Mall PTC Surabaya, Regina Agnes Wahyu Nurhayati T, dikenalkan Kezia dan Taufik dengan terdakwa sebagai Komisaris PT SBE. Regina mengatakan kepada terdakwa perusahaannya mencari batu bara dalam jumlah besar, akan disuplai ke PLN sebagai pembangkit listrik.

Terdakwa sebagai Komisaris Utama PT SBE, menawarkan saksi Regina bersedia membeli. Meskipun sebagai Komisaris Utama, namun, aktif menjalankan PT SBE layaknya seperti Direktur. Regina Agnes sebagai Direktur PT KEA menjadi tertarik, bersedia membeli batu bara melalui terdakwa. Sejak tahun 2017 Regina Agnes Wahyu Nurhayati T, telah membeli batu bara guna memenuhi kebutuhan PT PLN untuk pembangkit listrik.

Bulan Juni 2019, terdakwa Komisaris Utama layaknya sebagai Direktur, berhasil mendapatkan kontrak baru dengan PT PLN, sebagai pemasok batubara ke PLTU di Indramayu.Terdakwa menghubungi Regina Agnes, memberitahukan PT SBE mendapat kontrak dari PT PLN,

terdakwa meminta Regina agar bersedia membiayai, memodali pengadaan batu bara tersebut, menjanjikan keuntungan sebagai pemasok batu bara Rp35.000 - Rp50.000/ton. Pengembalian modal di beri surat kuasa untuk menarik uang dari rekening Bank PT SBE, setelah menerima pembayaran dari PT PLN Batu Bara.

Cara penyerahan modal ke PT SBE, mekanisme mengirim invoice ke PT KEA, pembayaran disetujui Direktur PT KEA, melakukan pembayaran melalui transfer ke Rekening Bank Mandiri an. PT KEA ke rekening PT SBE. Terdakwa yang bertindak secara aktif an. PT SBE, melakukan perjanjian kerjasama dengan Regina Agnes Direktur PT KEA di Surabaya, tanggal 07 Juli 2019, PT SBE menerima modal Rp3.504.839.000. Pada 15 Juli 2019, menerima modal sebesar Rp3.379.533.220. 29 Juli 2019 menerima modal Rp3.893.887.080, kemudian, 1Agustus 2019 menerima modal Rp5.462.784.160, 28 Agustus 2019 menerima modal Rp4.756.103.493,

25 September 2019, menerima modal Rp5.094.240.030, 17 Oktober 2019 menerima modal Rp5.055.088.443. 

PT SBE telah menerima dana membiayai pasokan batubara ke PT PLN Batu Bara dengan total sebesar Rp17.381.462.492. Setelah melakukan pengiriman batu bara ke PT PLN Batu Bara, pihak PT SBE menerima pembayaran dari PT PLN Batu Bara. Namun, terdakwa tidak mengembalikan dana modal beserta keuntungan sebagaimana yang telah ditentukan kepada Regina Agnes selaku Direktur PT KEA dengan jumlah Rp17.381.462.492, ditambah keuntungan seharusnya diserahkan Rp2.133.238.610. Padahal terdakwa telah menerima pembayaran penuh atas pengiriman batu bara ke PT PLN Batu Bara.

Terdakwa tanpa seijin dan sepengetahuan Regina Agnes Direktur PT KEA telah menggunakan dana untuk operasional PT SBE, untuk gaji karyawan, membayar kewajiban ke tambang. Pihak PT KEA mengirimkan somasi satu kali dan undangan klarifikasi kepada terdakwa namun tidak ada tanggapan.

Perbuatan terdakwa, Regina Agnes Wahyu Nurhayati T, selaku Direktur PT KEA mengalami kerugian Rp17.381.462.492 ditambah keuntungan yang seharusnya di serahkan oleh terdakwa Rp2.133.238.610. (sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper