suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Terdakwa Sempat Buron Gelapkan Uang PT ATP Rp150 Juta, Yudha Pratama Jadi Pesakitan, Jaksa Hadirkan Saksi Karyawan Perusahaan

avatar suara-publik.com
Foto: Terdakwa Yudha Pratama Panggabean menjalani sidang agenda saksi dan pemeriksaan terdakwa, di Ruang Garuda 1 PN secara vidio call dan 4 orang saksi dari pihak PT ATP, di hadirkan jaksa di persidangan, Rabu, (20/12/2023)
Foto: Terdakwa Yudha Pratama Panggabean menjalani sidang agenda saksi dan pemeriksaan terdakwa, di Ruang Garuda 1 PN secara vidio call dan 4 orang saksi dari pihak PT ATP, di hadirkan jaksa di persidangan, Rabu, (20/12/2023)
suara-publik.com leaderboard

 

SURABAYA, (suarapublik.com) - Sidang perkara pidana melakukan penggelapan dalam jabatan sebagai sales perusahaan di bidang makanan dan bahan kue PT. Arvian Tiga Putra (ATP), Jalan Margorejo Indah XIV C-603, Surabaya, dengan menipu pembayaran dari konsumen yang telah lunas, tidak disetorkan. Sehingga perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp150 juta, denganTerdakwa Yudha Pratama Panggabean bin Nirwana Panggabean, yang di pimpin Ketua Majelis Hakim Djoenaidie, di Ruang Garuda 1 PN Surabaya, secara vidio call, Rabu, (20/12/2023),

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Anang Arya Kusuma dari Kejari Surabaya, menyatakan, Terdakwa Yudha Pratama Panggabean melakukan tindak pidana. "Sebagai suatu perbuatan berlanjut, dengan sengaja melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, penguasaan terhadap barang disebabkan ada hubungan kerja, karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu” "Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHP."

Saksi Reyza Kusuma Kartika bagian admin accounting, mengatakan, "Keuangan perusahaan yang tidak wajar, kita lakukan audit keuangan, ada 14 konsumen yang sudah ditagihkan oleh terdakwa sekitar Rp161 juta. Terdakwa sebagai sales mengecek barang keluar dan melakukan penagihan. Print ada dua struk, 1 untuk konsumen yang satu untuk perusahaan," terang saksi. "Ada uang tidak masuk, bisa tahu dari mana," tanya hakim.

"Struk yang dibawa, konsumen sudah membayar, beberapa perusahaan sudah bayar, tapi tidak ditulis, di katakan belum membayar. Setiap jatuh tempo pembayaran tempo 15 hari, kok gak masuk-masuk biasanya 2 atau 3 hari sudah setor, kok banyak yang gak disetorkan oleh terdakwa," tambahnya.

Saksi Ganis selaku supervisor, mengatakan "Terdakwa sebagai sales perusahaan, dua struk dibagi ke konsumen, bukti item barang apa saja, satu di pegang kita, kalau lunas akan diberi struk warna putih yang asli, kalau belum diberi yang fotokopi an. Sempat dibawa ke bank untuk setor, yang terima yudha langsung. Hari Kamis April 2022, saya ikut ke bank, transfer bukan ke kantor, tapi ke rekening pribadi, timbul kecurigaan, dia hari Sabtu untuk bertemu, dia malah lari, ditangkap baru april 2023 kemarin," jelas saksi. Terhadap keterangan saksi, Terdakwa Yudha Pratama membenarkan nya, "Benar yang mulia," ujarnya.

Terdakwa mengaku telah menggelapakan uang perusahaan sebesar Rp150 juta, "Caranya, ada beberapa konsumen yang membeli cash, saya masukan ke nota tempo yang mulia, seolah- oleh konsumen belum bayar, saya laporkan bu Rayza, uang saya setorkan ke rekening saya, saya melarikan diri setahun, ke jakarta, uang tersebut saya pakai bayar pindah- pindah hotel, karena takut tertangkap," pungkasnya.

Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 3 Januari 2024, dengan agenda tuntutan JPU. Diketahui, Sejak bulan April 2022 , Terdakwa Yudha Pratama Panggabean sebagai karyawan di PT ATP, Jalan Margorejo Indah XIV C-603 Surabaya, sebagai sales/marketing, bertugas melakukan penjualan dan penagihan ke konsumen, bergerak di bidang distribusi penjualan bahan kue, mendapatkan gaji Rp2.965.000/bulannya.

Selanjutnya sales membuatkan nota dan barang diserahkan ke konsumen, lalu menyerahkan nota tersebut ke bagian finance untuk dibuatkan faktur jual, jatuh tempo pembayaran. Sales melakukan penagihan ke konsumen, uang hasil tagihan yang membayar langsung kepada sales disetorkan kepada Finance Perusahaan.

Rincian orderan yang belum disetorkan terdakwa, diantaranya, 1. CV Taman Pangan akan Kue, Mojokerto, Rp2.149.471, 2. TK Surya Dewi, Kranggan Rp7.203.115, 3. Citra Buana, Kediri, Rp7,653,140, 4. TK Prima Jaya, Kediri, Rp4,695,755, 5. Laksana Jaya, Kediri, Rp3.318.177, 6.TK Sembilan, Tulungagung, Rp4.313.786, 7. Toko Sari Murni, Mojoroto, Rp30,435,625, 8. Toko AJP Bahan Kue, Trenggalek, Rp14.577.286, 9. Sulastri, Wonokromo, Surabaya, Rp10,567,710, 10. TK Lady, Tulungagung, Rp6,515,100, 11. CV Sari Aroma, Kedungwaru, Rp8.823.969, 12. Bambang Efendi, Rp8.534.800, 13. Karyawan ATP, Rp29.001, 14. TK Sari Boga, Trenggalek, Rp16,159,715, 15. Kasbon uang operasional Rp2.000.000, jumlah total Rp150.671.607. 

Saksi Andreas Widyanto Tanalo, mengadakan meeting evaluasi bulanan bersama karyawan, mendapat laporan dari Saksi Reyza Kusuma Kartika, bagian admin accounting, bahwa uang tagihan yang dibawa terdakwa belum disetorkan ke perusahaan.

Saksi Reyza Kusuma Kartika konfirmasi ke konsumen, ternyata sudah dibayar melalui terdakwa, tidak disetorkan dan digunakan untuk kepentingan pribadinya, tanpa sepengetahuan Saksi Andreas Widyanto Tanalo selaku asisten marketing manager PT ATP.

Dilakukan audit keuangan oleh Saksi Ang Siu Lan, SE, kerugian perusahaan Rp150.671.607. Perbuatan terdakwa mengakibatkan PT ATP mengalami kerugian Rp150.671.607. (sam)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper