suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Sidang Pidana Penipuan dan Penggelapan Investasi Modal Rp5,9 Miliar, Indah Catur dan Greddy Harnando Diadili

Foto: Terdakwa Greddy Hernando warga Wisma Pagesangan III/56 Surabaya, menjalani sidang agenda Dakwaan di PN Surabaya secara Vcall, Selasa (16/05)
Foto: Terdakwa Greddy Hernando warga Wisma Pagesangan III/56 Surabaya, menjalani sidang agenda Dakwaan di PN Surabaya secara Vcall, Selasa (16/05)
suara-publik.com leaderboard

SURABAYA, (suara-publik.com) - Sidang perkara penipuan dan penggelapan modus investasi modal usaha memenuhi kebutuhan kain king koil nilai milyaran, saat kondisi pandemi, rumah sakit menggunakan sprei sekali pakai, lalu dibuang, hingga king koil menerima banyak pesanan sprei, sehingga Canggih Soelimin menyetor uang Hingga total Rp 5,9 Miliar, dengan laba 4 persen, namun keuntungan tersebut hanya abal-abal atau fiktif, dengan Terdakwa Greddy Harnando (40), warga Wisma Pagesangan III/56 Surabaya, pendidikan S-2 (Strategic Management) bersama dengan

Indah Catur Agustin (37), warga Ketintang Wiyata 5/6, Gayungan Surabaya, pendidikan S1, (dalam berkas perkara terpisah/Splitzing). Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Heru Hanindyo di Ruang Tirta1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya secara Vidio Call, Kamis, (16/05/2024).

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rista Erna Soelistiowati, Vini Angeline dan Agus Budiarto dari Kejati Jatim, menyatakan, Terdakwa Greddy Harnando (40), melakukan tindak pidana, yang melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan perbuatan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.

"Sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 378 KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Atau, Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP."

Terhadap dakwaan JPU, Penasehat Hukum Terdakwa Greddy Harnando (40), akan mengajukan tanggapan atas dakwaan JPU (eksepsi), "Kami akan mengajukan Eksepsi yang mulia, mohon waktu 1 minggu," katanya.

Diketahui, tahun 2019 Terdakwa Greddy Harnando berkenalan dengan saksi Canggih Soliemin,di Café Tanamerah, Jalan Trunojoyo 75 Surabaya. Terdakwa mengaku sebagai Komisaris Utama di PT.Garda Tamatex Indonesia (PT.GTI) dan Direktur Utama Indah Catur Agustin, bergerak di bidang perdagangan besar tekstil, pakain, dan alas kaki.

Pada September 2020, Terdakwa Greddy Harnando bertemu dengan Canggih Soliemin bersama Silvester Setiyadi Laksmana dan Wisnu Rudiono di Cafe yang sama.
Dalam pertemuan terdakwa mengatakan kepada Canggih Soliemin “Terdakwa merupakan Komisaris Utama di PT. Garda Tamatex Indonesia (PT. GTI) sedang kerjasama dengan PT. Duta Abadi Primantara, pemegang lisensi izin resmi merk KING KOIL di Indonesia, dengan nilai milyaran rupiah.

Karena kondisi sedang Pandemi  Covid-19, semua rumah sakit menggunakan sprei sekali pakai lalu dibuang. Agar mau investasi dananya, terdakwa menjanjikan keuntungan 4 persen dari investasi yang diberikan.

Selanjutnya, Terdakwa Greddy Harnando meminta Terdakwa Indah Catur Agustin membuat RAB supply kain king koil, periode September- November 2020 dan November - Desember 2020. Dokumen RAB dikirim lewat whatsapp kepada Terdakwa Greddy Harnando.

1September 2020 Terdakwa
mengirim rincian pekerjaan lewat WA kepada Canggih Soelimin
RAB supply King Koil ( November - Desember 2020) total laba Rp 379.250.000,-, untuk setiap periodenya.Terdakwa mengenalkan Indah Catur Agustin sebagai Dirut.PT.Garda Tamatek Indonesia.

Terdakwa Indah Catur Agustin (berkas terpisah/splitzing) menyakinkan Saksi Canggih, adanya order dari king koil dalam jumlah besar dan menjanjikan bagi hasil persen tiap bulannya, sesuai modal yang disetor, sehingga Saksi Canggih Soliemin mau investasikan dananya.  Dan beberapa kali telah menginvestasikan dananya ke Rek. BCA Cab. Darmo Surabaya, an. PT. Garda Tamatex Indonesia, periode November 2020 - September 2021, total Rp5.950.000.000.

Saksi Canggih Soelimin beberapa kali meminta kepada Terdakwa Greddy Harnando maupun Indah Catur Agustin segera mengembalikan modal miliknya, sesuai jatuh tempo periode bulan Juni 2021 s/d September 2022. Namun, kedua terdakwa selalu menghindar
pemenuhan kebutuhan kain king koil, meminta Saksi Canggih tetap investasikan modalnya.

Supaya Saksi Canggih tidak menarik dananya, Terdakwa Greddy memberikan 7 lembar cek BCA Cab. Klampis nilai total Rp5.950.000.000. 7 lembar Cek tersebut menurut Terdakwa Greddy bisa dicairkan periode Oktober 2022 s/d Januari 2023. Namun, saat Saksi Canggih Soliemin mencairkan cek tersebut tidak bisa dengan keterangan Rekening Giro atau Rekening khusus telah ditutup.

Saksi Canggih meminta dananya bisa dikembalikan secara bertahap sejumlah Rp1.125.000.000, namun,  Terdakwa beralasan pihak PT. Duta Abadi Primantara belum membayar ke PT. GTI.

Menurut keterangan Saksi Shinta Dwi Laksmi selaku Hrd PT. Duta Abadi Primantara, perusahaannya tidak pernah mengeluarkan Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) supply kain king koil periode September-November 2020, RAB periode November-Desember 2020, tidak pernah bekerja sama dengan Terdakwa Greddy Harnando dan Indah Catur Agustin.

Somasi Saksi Canggih Soliemin  kepada Terdakwa Greddy Harnando, dan Indah Catur Agustin tidak ada tanggapan. Akibat perbuatan Terdakwa Greddy Harnando dan Indah Catur Agustin (berkas terpisah/splitzing) kepada Saksi Canggih Soliemin mengalami kerugian Rp4.825.000.000. (sam)

Editor : suarapublik

suara-publik.com skyscraper