suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Mafia Tanah Berulah, Diduga Libatkan Kades Pranti Gresik

Foto: gambar ilustrasi
Foto: gambar ilustrasi
suara-publik.com leaderboard

GRESIK, (suara-publik.com) - Kembali aroma busuk yang menyengat adanya persengkongkolan yang terjadi di wilayah Desa Pranti, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, atas dugaan kasus mafia tanah yang melibatkan Kepala Desa Pranti dengan seorang pengusaha kavling.

Hal ini diungkapkan 2 (dua) korban yang bernama Nasir dan Suwarno. Mereka menagih lahan tanahnya kepada pengusaha kavling tersebut karena pembayarannya belum lunas.

Menurut informasi yang berhasil media ini menyebutkan, awal kejadiannya bermula ketika Suwarno menjual lahan seluas sekitar 2.000 m3 kepada Nasir.

Adapun tanah yang dijual tersebut terletak di Dusun Glundung, Desa Prant. Singkat cerita, tanah yang sudah di beli oleh Nasir dari Suwarno dijual ke pihak lain, yang bernama Supeno.

Rencananya, lahan tanah ini oleh Supeno akan dijual secara kavling dengan nama Fran Jaya. Namun, dalam perjanjian jual beli tanah dari penjual (Nasir) kepada pembeli (Supeno) masih dibayar sebesar Rp70 juta, dari kesepakatan awal jual beli senilai Rp400 juta.

Selanjutnya Nasir diberi 5 kavling sebagai pengganti kekurangan pembayaran oleh Supeno. Namun anehnya, lahan tersebut sudah dialihkan atas nama Supeno.

Kuat dugaan pengalihan itu dilakukan oleh Kepala Desa (Kades) Pranti, Sh. "Seharusnya tanah itu harus di backlist. Tapi Kades Sh tidak berani. Katanya, hukumnya sudah kalah. Sampai sekarang, saya belum dikasih surat sama Kades Sh, karena saya dikasih 5 kavling. Apa dia bingung bikin surat tapi sudah milik orang lain," kata Nasir kepada wartawan.

Nasir menilai, Sh melanggar administrasi karena membuat peralihan disaat status tanah atas nama Suwarno yang dibelinya belum dilunasi oleh Supeno. Karena itu, Sh berupaya melakukan mediasi dengan memanggil Nasir.

Agar proses surat selesai, Nasir pernah menyerahkan fee kepada Hardi sebesar Rp5 juta. Tapi uang tersebut dikembalikan lagi ke Sh melalui Istri Nasir.

"Takut paling tak laporkan," kata Nasir, sambil menyebut bahwa kasus ini tidak selesai selama 2 tahun ini.

"Supaya tidak menjadi korban kejahatan serupa, kami imbau masyarakat cek status tanah. Cek kepada pihak desa dan BPN, hindari penipuan-penipuan dengan modus jual tanah kavlingan," pungkasnya. (Imam/tim)

Editor : suarapublik

suara-publik.com skyscraper