BONDOWOSO, Suara Publik
Menjelang berakhirnya masa tugas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bondowoso, Kepala Lapas Bondowoso, Muhammad Hanafi,SH.MH, menyelenggarakan pengajian, dan menghadirkan tokoh moderat, KH Ayub Syaefurrijal, (Gus Syef).
Usai pengajian, Hanafi menyampaikan kepada sejumlah wartawan, bahwa ceramah agama yang disampaikan oleh mantan Ketua PC NU Kabupaten Bondowoso tersebut mencerminkan sosok Gus Dur.
“Ceramahnya sangat menarik untuk kita simak dan dihayati, karena hanya mengajak masyarakat lapas untuk kembali kejalan yang benar, setelah kembali ditengah-tengah masyarakat,”kata Hanafi.
Menurutnya, penyampaian Gus Syef dalam ceramahnya, selalu mengajak masyarakat untuk menghargai budaya Indonesia yang majemuk. Karena bangsa Indonesia yang terkenal dengan budaya yang ramah dan selalu memelihara kedamaian dalam hidup keseharian, sehingga membuat damai dalam hati.
“Kerukunan antar umat beragama selalu gencar disampaikan oleh para tokoh yang merujuk gagasan dari pesan dari tokoh Nasional yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yakni reformasi konstitusi dan demokrasi,”terangnya.
Pemikiran Gusdur itulah yang selalu menjadi inspirasi. Menurut Hanafi, selalu diikuti dan ditekuni, karena pemikirannya selalu mengajak masyarakat lebih mengedepankan Islam yang moderat dan menghargai pluralisme, dan selalu membawa pesan kedamaian.
Ketokohan seorang Gusdur kerapkali mengajarkan ummat untuk menghormati perbedaan, sehingga patut dijadikan tauladan oleh semua pihak. Gus Dur juga mengajarkan tentang politik dan kekukasaaan yang lebih mementingkan kemanusiaan, maka kekuasaan dalam jabatan tidak perlu dipertahankan mati-matian.
“Dengan begitu hak-hak demokrasi masyarakat Bondowoso harus diperluas agar bisa meliputi persamaan hak dalam berdemokrasi, apalagi menjelang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati tahun 2018 mendatang,”katanya.
Kendati demikian, Hanafi berharap kepada eksekutif dan Legislativ, agar dalam pemikiran demokrasi fungsional supaya timbul dalam perpolitikan di Bondowoso supaya system politik yang menekan pemerintah menjadi parelemen yang bekerja sama dengan pemerintah supaya menjamin pembangunan masyarakat seuntuhnya.
“Karena tujuan dari sebuah demokrasi politik hanyalah untuk membangun seluruh kepentingan masyarakat, bukan kepentingan individu dan kelompok, karena saya melihat di Bondowoso cenderung kepada pembangunan internal kelompok,”tegasnya.
Namun, jika kemudian mengadopsi politik Gus Dur, kata Hanafi, perbedaan itu akan menjadi sebuah instrument sebagai sebuah gagasan atau ide untuk membangun kepentingan masyarakat, sehingga dampaknya bukan kepada kelompok atau perseorangan, melainkan untuk semua elemen masyarakat Bondowoso.
“Maka tidak salah jika Gus Dur selalu menyuarakan reformasi konstitusi dan demokrasi, karena saya yakin Gudur sudah mengetahui terjadinya situasi politik yang carut marut dimasanya hingga sekarang,”imbuhnya. (her)
Editor : Pak RW