BONDOWOSO, Suara Publik – Ikatan Jurnalis Telivisi (IJTI) tapal Kuda harus angkat bicara ketika berita wartawan IJTI dianggab hoax. Dalam siaran persnya, Ketua IJTI Syaiful Kusmandani,didampingi Sekretarisnya, Mahfudz Sunarjie, mengungkapkan, ketika wartawan IJTI mendapatkan info awal dari tetangga Rokayah yang mengaku pernah memergoki Rokayah makan rumput. Rabu, (1/3/2017).
Atas info tersebut mereka langsung mengecek lapangan, menemui beberapa orang yang bisa menjadi sumber informasi kunci dan pihak terkait seperti para tetangga, Kasun dan bahkan sempat menelpon kades tapi telpon tidak diangkat.
“Walaupun demikian, ada seseorang datang yang mengaku utusan kades, ikut serta mendampingi pada saat peliputan,”kata Wartawan Trans TV ini.
Lebih jauh ia mengatakan, para wartawan kemudian mendatangi rumah Rokayah untuk menanyakan langsung kebenaran informasi tersebut. Rokayah membenarkan. Di tengah proses interview awal, Hartono, Kepala Dusun setempat, datang. Lalu para wartawan televisi mengawali wawancara terlebih dahulu terhadap Rukoyah.
“Dalam take wawancara, Rukoyah menyatakan bahwa ia pernah makan rumput dikala lapar dan tidak ada makanan di rumah,”ujarnya.
Menurut dia, usai take wawancara lalu dilanjutkan proses mengambil gambar. Dimulai dari kondisi rumah dan dapur Rokayah. Pada saat itu juga para pihak yang menjadi sumber informasi kunci, berada di lokasi dan menyaksikan proses peliputan. Rokayah lalu memperagakan proses mulai dari mengambil wadah, pergi ke belakang rumah lalu mencari dan mengambil rumput. Prosesnya natural dan spontanitas.
“Hingga akhirnya rumput tersebut diulek (bhs jawa) menggunakan cobek lalu dikunyah,”terangnya.
Untuk melengkapi fakta, kata Syaiful, jurnalis IJTI mewawancarai para pihak diantaranya, Hartono, Kasun, yang menyatakan bahwa dia sekali mendapat laporan dari warganya bahwa Nenek Rukoyah pernah memakan rumput. Disaat wawancara berlangsung, Bu Rukoyah menyela dan menegaskan dirinya ternyata sudah tiga kali makan rumput.
Suadi, tetangga, yang mengatakan bahwa dia sempat bertanya kepada Rokayah alas annya makan rumput. Jawaban yang diterimanya karena tidak ada lagi yang bisa dimakan dan dia malu untuk meminta kepada tetangga. H. Ali Sadikin, tetangga. menurutnya kondisi kemiskinan Rokayah yang akhirnya terpaksa makan rumput itu.
“Sebetulnya telah diketahui oleh pihak pemerintah desa tapi tidak ada respon untuk membantu,”ungkapnya.
Pada Kamis, 2 Maret 2017 pagi, seorang jurnalis yang berbeda, mendatangi rumah Rokayah untuk melakukan peliputan. Namun di lokasi sudah ada beberapa orang, salah satu diantaranya mengeluarkan kata-kata keras sambil menunjuk wajah wartawan yang isinya keberatan atas pemberitaan sebelumnya yang menyatakan Nenek Rokayah makan rumput.
Dengan nada tinggi, oknum tersebut mengecam kinerja para jurnalis. Ini merupakan salah satu bentuk kekerasan verbal yang diterima oleh wartawan. Merasa terancam, wartawan kemudian meninggalkan lokasi. Beberapa saat kemudian, wartawan tersebut kembali mendatangi rumah Rokayah karena kondisinya sudah sepi.
“Dalam wawancaranya Rokayah justru mengutarakan pernyataan berbeda dengan hari sebelumnya. Dia menyangkal pernah makan rumput melainkan hanya makan kulupan (bhs Jawa) atau ramben (bhs Madura) saat kondisi lapar dan tidak ada makanan di rumahnya,”tegasnya.
Ditegaskan pula, untuk melengkapi fakta tersebut, jurnalis kemudian mewawancarai ketua RT setempat. Menurut ketua RT, Rokayah tidak pernah makan rumput tapi makan ramben, senada dengan yang disampaikan Rokayah.
Pada Kamis siang (sekitar Jam 14.00 wib), 2 Maret 2017 Jurnalis televisi yang berbeda, kembali mendatangi rumah Rokayah. Namun sang nenek sudah tidak ada di rumah melainkan telah dibawa ke Panti Jompo Dinsos Pemprov Jatim di Kecamatan Puger. Di lokasi rumah Rokayah jurnalis IJTI hanya bertemu para tetangga. Para wartawan mewawancarai dua orang tetangga yang meragukan kebenaran pernyataan Rokayah yang pertama kali disampaikan ke media yang menyatakan ia terpaksa makan rumput. Menurut mereka semiskin-miskinnya warga disana tidak mungkin akan makan rumput.
“Mungkin yang dimaksud oleh Rokayah itu Simbukan. (Simbukan nama latinnya Paederia scandens adalah tanaman liar yang tumbuh merambat biasanya dipagar, berbau tidak sedap namun menjadi tanaman obat untuk mengatasi sakit perut seperti kembung, dan susah buang gas),”terang Syaiful.
Dia menambahkan, pada hari berikutnya, tepat hari Jumat, 3 Maret 2017, wartawan yang liputan pada hari kamis ke rumah Rokayah, datang ke Panti Jompo di Kasiyan kecamatan Puger dan selanjutnya mewawancarai Rokayah. Dia mengutarakan bahwa tidak makan rumput melainkan hanya makan kulupan ramben (sayuran sekitar rumah).
Ditegaskan, dari kronologis tersebut ada beberapa fakta yang memicu polemik atas pemberitaan Rokayah yang meragukan hasil kerja jurnalistik para jurnalis yang tergabung dalam IJTI. IJTI menilai polemik yang terjadi di masyarakat merujuk pada hasil kerja para wartawan yang menyajikan fakta yang bertolak belakang, bahkan saling menegaskan, meski dari sumber berita yang sama, tidak produktif dan sebaliknya menggerus kepercayaan publik terhadap integritas jurnalis.
“Oleh karena itu, kami menyatakan beberapa poin penting untuk menjadi pijakan semua pihak di dalam menilai sebuah berita,”tandasnya.
Bahwa peliputan jurnalis IJTI pada hari Rabu 1 Maret 2017, soal Rokayah makan rumput adalah fakta dan bukan berita hoax. Berita tersebut telah dibuat berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik dengan menjunjung tinggi integritas profesi jurnalis. Bahkan berita tersebut dibuat dengan sangat hati-hati dengan memenuhi unsur lingkar narasumber (Nenek Rokayah. Tetangga dan Kasun).
“Demikian juga berita yang muncul namun menyajikan fakta yang berbeda dari fakta pertama, sebagaimana hasil peliputan pada pada hari Rabu, Kamis dan Jumat tersebut, juga sudah memenuhi kaidah jurnalistik karena berdasarkan sumber berita utama yakni Rokayah dan para pihak terkait,”urainya.
Menurutnya, IJTI Tapal Kuda mengajak semua pihak untuk bijak dalam menyikapi sebuah berita, bersama-sama memerangi berita hoax dengan merujuk hanya pada berita dari media kredibel.
"Demikian pernyataan sikap IJTI Tapal Kuda 2017 terkait pemberitaan Nenek Rokayah makan rumput,"pungkasnya.(her*)Editor : Pak RW