BONDOWOSO, Suara Publik - Menjelang pelaksanaan Festival Kopi Nusantara II bulan depan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) terus melakukan persiapan-persiapan, baik secara tehnis maupun non tehnis. Sedikitnya 20 kelompok petani kopi Bondowoso mendapat pelatihan khusus selama satu hari yang diselenggarakan oleh bidang Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) Diskoperindag Bondowoso.
Bahkan, sejumlah petani kopi di tiga Kecamatan, Taman Krocok, Sumber Wringin dan Ijen, mendapat pelatihan tersebut untuk menyongsong festival kopi yang rencananya akan dihadiri oleh ratusan dedengkot kopi Indonesia.
Asisten II Bidang Perekonomian Pemkab Bondowoso, Ir.H.Muhammad Ervan, usai membukan pelatihan bagi kelompok petani kopi mengatakan, Bupati Bondowoso yang telah mendeklarasikan sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK), harus diikuti dan ditindak lanjuti oleh semua elemen masyarakat khususnya para petani kopi.
“Dan yang paling penting adalah bagaimana masyarakat dapat mengaplikasikan BRK menjadi lebih buming di Indonesia, tentunya dengan menciptakan kopi Bondowoso menjadi kopi idaman bagi penikmat kopi,”katanya.
Menurut mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) ini, dengan diadakannya pelatihan semacam ini, nantinya dapat menciptakan citarasa tersendiri bagi kopi Bondowoso, apalagi kopi Bondowoso tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi sudah dikenal oleh dunia Internasional, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Swedia, Swiss, Amerika dan Asia.
“Oleh karena itu, pelatihan ini dimaksudkan untuk menciptakan rasa kopi Bondowoso yang khas, sehingga rasa dan aroma kopi kita tidak dimiliki oleh produsen kopi yang lain,”tegasnya.
Dijelaskan, sebagai BRK saat ini telah banyak menjamur kafe-kafe di Bondowoso. Namun, rasa kopi Bondowoso yang sesungguhnya belum sepenuhnya dimiliki. Meski banyak produk olahan kopi yang sudah beredar dipasaran itupun rasanya hampir sama meski berbeda produk.
“Tentunya dengan pelatihan semacam ini, diharapkan mampu menciptakan rasa dan aroma kopi Bondowoso yang berbeda,”imbuhnya.
Sementara itu, peneliti pengembangan agribisnis kopi dan kakau dari Puslit Jember, Djoko Soemarno, dalam pemaparanya mengungkapkan Bondowoso sebagai pengahasil kopi terbesar se Jawa Timur, patut ditingkatkan. Sehingga dapat mengahasilkan kopi yang benar-benar rasa kopi khas Bondowoso.
“Makanya, dengan pelatihan ini dimaksukdkan untuk mencari rasa dan aroma kopi yang pas untuk Bondowoso, sehingga pada pelaksanaan festival kopi Nusantara ke 2 nanti, BRK menjadi yang terbaik,”ungkapnya.
Menjadi tuan rumah dalam Festival nanti, kopi Bondowoso dengan Indikasi Geografis Java Ijen Raung, tahun kemarin dapat mengalahkan 10 kopi lain dari berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Toraja hingga Flores.
Sehingga dalam kontes cita rasa nanti, Bondowoso harus dapat membuktikan bahwa kopi asal Bondowoso tak bisa dipandang sebelah mata dan sudah mampu bersaing dengan kopi – kopi di seluruh nusantara.
Dengan adanya pelatihan ini, ke depan nanti akan menjadi cambuk untuk tetap menjaga kualitas kopi sehingga diakui menjadi salah satu kopi terbaik di dunia,” kata Djoko Soemarno.
“Dalam festival nanti, kopi yang dihasilkan petani kopi Bondowoso, harus bisa mengungguli kopi lain dari segi fragrant, aroma, flavors, aftertaste, acidity (keasaman) untuk kopi arabika, body, balance dan sweetness,”tegasnya.
Menurutnya, Pemkab Bondowoso yang telah memprogramkam untuk mengembangkan produk unggulan daerah yang punya nilai ekonomis dan punya pasar. Lantaran Bondowoso memiliki komoditas unggulan, yakni kopi. Seperti diketahui, kopi rakyat hasil produksi petani di lereng Ijen dan Raung telah diekspor ke berbagai negara di Amerika dan Eropa, karena cita rasanya yang khas.
“Mudah-mudahan dengan pelatihan ini, petani kopi Bondowoso mampu menjaga kwalitas kopi agar dalam festival nanti menjadi juara bertahan,”imbuhnya.
Patauan Suara Publik dilapangan, selain dihadiri oleh para peserta pelatihan, hadir pula Kepala Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Bondowoso, Ketua Asosiasi Petani Kopi, Kabid dan Kasi UMKM, Edy Strisno, Vita Aggraeni, dan sejumlah pejabat dan pegawai Diskopring Bondowoso. (her)
Editor : Pak RW