suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

KH.R Azaim Ibrahimy: Peringati Hari Santri Nasional, Santri Harus Mampu Jaga Nilai Kesantriannya

avatar suara-publik.com
suara-publik.com leaderboard

Dilaporkan oleh : Hery Masduki

BONDOWOSO (Suara Publik) - Perayaan hari Santri Nasional 2017, yang dirayakan secara serentak oleh seluruh Pondok Pesantren se Indonesia, mendapat perhatian serius dari Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KHR Azaim Ibrahimy.   

Ia mengatakan, tantangan santri ke depan yaitu bagaimana menjaga nilai-nilai kesantrian. Sebab, banyak orang menyambut hari santri dengan gebyar, kirab atau semacamnya. “Mereka jarang sekali memikirkan apa tantangan santri ke depan,” kata Cucu Pahlawan Nasional, KHR As’ad Syamsul Arifin ini.   

Ulama muda kharismatik ini menyampaikan definisi santri. Bahwa santri, adalah kaum muslim Indonesia yang berangkat dari kearifan lokal warisan Wali Sanga. Jika ditinjau dari Bahasa Sansekerta bisa diterjemahkan, San yang mempunyai arti kesucian dan Tri tiga. Artinya, ada tiga konsep kesucian yang maknanya bisa diperluas.  

“Ada tiga konsep kesucian, dan itu bisa diperluas maknanya. Atau dalam bahasa guyunon tapi ilmiah yang didawuhkan oleh KHR As’ad Syamsul Arifin, bahwa santri itu ada tiga macam, yakni, “santri sesungguhnya”, “berbau santri” dan “santri bau”,”katanya.   

Menurutnya, santri yang sesungguhnya, adalah santri yang mengamalkan ajaran gurunya dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya, ajaran guru itu menyangkut nilai-nilai keislaman. Sedangkan yang berbau santri, adalah mereka yang tidak pernah bermukim di pesantren tetapi mengamalkan dengan sungguh-sungguh apa yang diajarkan para kiai. 

Mereka ini bisa lebih santri dari santri yang hanya secara formalitas tinggal di pesantren tetapi tidak mengamalkan ajaran yang diperoleh dari pesantren.   “Yang ketiga adalah santri bau. Mereka inilah yang bermasalah, dan ini tantangan yang sebenarnya. Mereka melupakan ajaran gurunya, bahkan terkontaminasi oleh ideologi atau paham-paham lain. Kalau dalam bahasa populernya “santri bau” ini masuk sebagai bahaya laten,” tuturnya.   

Selain itu KHR Azaim Ibrahimy, menegaskan, banyak aliran lain yang dimaksud adalah yang menganut faham dari luar Islam yang kemudian masuk melalui santri bau, yang memahami situasi pesantren, karakteristik pesantren dengan segala lika-liku kehidupan didalam pesantren. “Kalau dalam sejarah keislaman mereka inilah yang disebut kaum munafikun,” ujarnya.   

MenantuKHR Fawid As’ad Syamsul Arifin, ini berharap, para santri yang ada saat ini mampu mengamalkan ajaran pesantren dan menjalankan amanah gurunya dengan bersungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.  

“Kita hanya selalu berdoa, semoga para santri yang beriktikad baik mengamalkan ajaran kiai lebih dominan sehingga mampu melawan dan memberantas karakter santri-santri bau ini,” imbuhnya. (her)

Editor : Redaksi

suara-publik.com skyscraper