suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

H-5 Lebaran, Kampung Prostitusi Tangkis Gempol Masih Menggeliat.

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy
Foto : Kampung Tangkis dikeremangan malam.
Foto : Kampung Tangkis dikeremangan malam.

Laporan Iwan Dayat.

Suara-Publik.Com Lima hari menjelang hari raya Idul Fitri 1439 Hijriyah, Kampung prostitusi Tangkis Gempol masih ramai dikunjungi para penikmatnya, Minggu (10/6).

Selain tenda-tenda mesum di deretan tangkis sungai Porong, Juga berdiri deretan rumah karaoke yang menjajakan minuman keras lengkap dengan pemandunya masih leluasa beroprasi yang terletak di Dusun Gempol baru Desa Gempol kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan.

Ratusan pengunjung tempat prostitusi kelas bawah yang memiliki beragam jenis wanita penjaja cinta dengan tarif yang bervariasi mulai dari 20 ribu hingga 50 ribu rupiah untuk sekali kencan yang berada di dalam tenda terpal, juga berdiri puluhan lapak penjual minuman dan makanan ringan di atas tangkis sungai Porong sisi selatan.

Tarif yang murah menjadi alasan para penikmat wisata sahwat untuk datang ke tangkis sungai porong menikmati sensasi bercinta kilat di dalam tenda terpal. Mulai kumpulan anak muda, hingga orang tua tumplek blek di kampung ini meskipun kerap kali diobrak aparat keamanan mamun masih saja aman dalam menjalankan usahanya.

Dari pantauan Suara Publik , Ada satu arena permainan yang tidak ber operasi yakni arena judi Cap Ji Kie yang kerap dikunjungi para pemain dari luar kabupaten Pasuruan. Kampung prostitusi tertua dan masih bertahan hingga saat ini dan sangat dikenal oleh masyarakat karena beragam aktifitas ada didalamnya dan telah menjadi mata pencaharian tetap puluhan warga sekitar tangkis sungai Porong sisi Gempol.

Pemerhati dari Komite Penanggulangan Aids Indonesia (KPAI) Dian Otonk Gimbal kepada Suara Publik mengatakan. " Rata-rata pelanggan di tangkis Porong tidak menggunakan kondom dan ini rentan terhadap penyakit kelamin, Alasan mereka selama ini pelanggan tidak mau menggunakan kondom, " Tukas Dian.

Lebih lanjut Dian memaparkan bahwa pihaknya selama ini seringkali memberikan sosialisasi kepada para PSK Tangkis, Namun hal ini dianggapnya kurang maksimal tanpa peran aktif dari pemerintah kabupaten Pasuruan dan aparat terkait guna mendata para PSK dan memeriksanya. " Seringkali mereka sembunyi jika mengetahui ada sosialisasi bahaya HIV/ Aids dan ini perlu ditertibkan agar tidak terjadi penyebaran penyakit di masyarakat, " Tambah Dian.

Menurut Dian, PSK di Tangkis sungai Porong rata- rata merupakan pemain lama dan bila ada yang baru datang itupun pernah bekerja di tempat lain. " Diperlukan koordinasi yang menyeluruh antara aparat dan Dinas kesehatan dan Satpol PP sebagai penegak perda agar nantinya para psk tangkia tidak semakin menjamur, Kalau mau ditutup saya rasa masih terlalu banyak kendala, " Pungkas Dian Otonk Gimbal, (dyt).

Editor :