suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Meriahkan Sedekah Bumi, Desa Sawo Gelar Gulat Okol.

avatar suara-publik.com
  • URL berhasil dicopy
Foto: Peserta Gulat saat di Panggung Pertandingan.
Foto: Peserta Gulat saat di Panggung Pertandingan.

Laporan: Tom

SURABAYA, suara-publik.com - Tradisi gulat okol masih dijaga oleh warga Desa Sawo, kel.Beringin, Kec.Sambikerep, Surabaya, hingga saat ini.

Tradisi unik itu merupakan wujud rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh para petani. Seusai panen dan pada musim kemarau, mereka menggelar sedekah bumi, remo kaulan, dan gulat tradisional yang oleh warga setempat disebut okol.

Gulat okol menjadi agenda rutin tahunan dan menjadi bagian dari wisata budaya. Tradisi itu pun tak mengenal usia, baik warga dewasa maupun anak mengikuti pertandingan gulat okol tersebut. Mereka akan bertanding di atas panggung, yang mana gelanggangnya beralaskan jerami yang ditutupi dengan terpal, sehingga meskipun dibanting tidak akan terlalu sakit.

Dalam pertandingan itu, para peserta diharuskan memakai ikat kepala atau odeng. Mereka pun diwajibkan memakai selendang yang diikatkan ke bagian perutnya.

"H. Suwarno selaku ketua RW 02 Desa Sawo mengatakan, acara ini merupakan kegiatan rutin tahunan dan merupakan bentuk rasa syukur warga, yang pertama atas kemerdekaan negeri ini dan yang kedua memang rasa syukur bahwa sampai hari ini masyarakat desa Sawo masih dalam keadaan aman tentram tertib damai tidak ada hal-hal yang tidak kita harapkan bersama," kata H.Suwarno, minggu (9/9/2018).

Masih kata H. Suwarno, jadi budaya ini merupakan sebuah tradisi baik, tentunya bersama-sama ini juga jadi ajang silaturahmi untuk seluruh warga yang semula mungkin dengan aktivitasnya masing-masing nggak ketemu hari ini bisa kumpul bersama kumpul bersama makan bersama untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menjaga ketentraman dan keamanan bersama.

"Acara sedekah bumi ini, kami isi dengan berbagai ritual dan hiburan tradisional, seperti tadi ada ruwatan desa dengan membawa tumpeng dan berdoa bersama di tegal desa kami, sebelumnya ada beberapa rangkaian acara seperti pagelaran tayub, seni ludruk dan yang baru saja digelar adalah tradisi okol (gulat),” ujarnya.

Sementara itu, dalam acara okol pihak panitia membagi peserta berdasarkan tiga kategori yakni laki-laki dewasa, anak-anak dan ibu ibu Peserta yang bertanding adalah dua orang dalam satu arena, keduanya dipakaikan udeng dan sebuah selendang yang diikatkan di dada masing-masing, selanjutnya para pembawa jago turut mengantar dan mengawal jalannya pertandingan okol tersebut.

Peraturannya cukup sederhana, yakni, dengan menjatuhkan lawan selama dua kali main. Dan pemenang dalam tiap pertandingan mendapat hadiah berupa uang dan kaos.( tom)

Editor :