SURABAYA, (suara-publik.com) – PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menuntaskan program peremajaan alat dan fasilitas terminal yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Dengan beroperasinya empat unit Electric Quay Container Crane (e-QCC) dan 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry (e-RTG), TPS kini memasuki fase penguatan layanan guna menghadirkan operasional yang lebih produktif, andal, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna jasa.
Penyelesaian program tersebut disampaikan dalam kegiatan TPS Expose 2026 yang digelar pada Selasa (7/7). Forum tersebut menjadi wadah dialog antara perusahaan dengan regulator, perusahaan pelayaran, pengguna jasa, asosiasi logistik, eksportir, importir, serta para pemangku kepentingan kepelabuhanan lainnya.
Direktur Utama TPS, Wahyu Widodo, mengatakan keberhasilan program peremajaan tidak terlepas dari dukungan para pelanggan yang tetap memberikan kepercayaan selama masa transisi berlangsung.
"Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengguna jasa yang telah menunjukkan pengertian, kesabaran, dan kepercayaannya selama proses peremajaan peralatan berlangsung. Setelah proses ini selesai, TPS berkomitmen menghadirkan layanan yang lebih baik," ujar Wahyu.
Menurutnya, dukungan dari berbagai instansi terkait juga berperan penting dalam mengawal proses transformasi tersebut sehingga dapat berjalan sesuai rencana dan mendukung penguatan layanan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Sebagai salah satu gerbang logistik utama nasional, TPS terus memperkuat infrastruktur dan peralatan operasional untuk mengakomodasi pertumbuhan arus peti kemas dan perkembangan perdagangan global.
Empat unit e-QCC baru yang telah beroperasi akan meningkatkan kemampuan terminal dalam melayani kapal berukuran besar dengan produktivitas lebih tinggi di sisi dermaga. Sementara itu, tambahan 14 unit e-RTG akan memperkuat operasional lapangan penumpukan melalui percepatan pergerakan peti kemas dan optimalisasi pengelolaan yard.
Selain meningkatkan kapasitas layanan, penggunaan peralatan berbasis listrik tersebut juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, meningkatkan efisiensi energi, serta menekan emisi karbon dari aktivitas operasional terminal.
Senior Manajer Komersial TPS, Bayu Setyadi, menegaskan bahwa transformasi yang dilakukan perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas, tetapi juga mendukung upaya menciptakan operasional yang lebih berkelanjutan.
"Pengoperasian e-RTG dan e-QCC berbasis listrik merupakan langkah TPS dalam mengurangi jejak karbon operasional terminal. Pelanggan tidak hanya memperoleh layanan yang lebih produktif dan andal, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem logistik yang lebih hijau," kata Bayu.
Dalam pelaksanaannya, program peremajaan menghadapi berbagai tantangan karena proses pemasangan, pengujian, integrasi sistem hingga commissioning peralatan baru dilakukan di tengah aktivitas terminal yang tetap berjalan.
Kondisi tersebut menuntut pengaturan operasional yang cermat agar proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal tanpa mengganggu kelangsungan layanan kepada pelanggan.
"Tantangan terbesar kami adalah menjaga keseimbangan antara pelaksanaan pekerjaan peremajaan dengan kebutuhan pelayanan yang tetap harus berjalan setiap hari. Karena itu seluruh proses dilakukan secara bertahap dan terencana," ujar Bayu.
TPS juga memastikan kesiapan sumber daya manusia dan sistem operasional melalui pelatihan operator, simulasi operasional, pengujian keselamatan, serta penyesuaian prosedur kerja guna mengoptimalkan penggunaan peralatan baru sejak hari pertama beroperasi.
Melalui TPS Expose 2026, sejumlah pemangku kepentingan turut menyampaikan berbagai masukan terkait peningkatan layanan terminal.
Kepala Kantor Bea dan Cukai Tanjung Perak menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam mendukung percepatan arus barang, termasuk pengelolaan Container Freight Station (CFS) dan peningkatan layanan penarikan barang jalur merah (SPJM).
Bea Cukai juga mengingatkan pentingnya kepatuhan pengguna jasa dalam penyampaian Pemberitahuan Kesiapan Barang (PKB). Keterlambatan penyampaian dokumen tersebut dapat memengaruhi penjadwalan pemeriksaan dan berpotensi berdampak pada dwelling time serta efektivitas pelayanan.
Menanggapi masukan tersebut, TPS menyatakan komitmennya untuk memperkuat koordinasi dengan Bea Cukai, Karantina, perusahaan pelayaran, forwarder, dan pemilik barang agar proses pelayanan semakin terintegrasi dan efisien.
Sejumlah pengguna jasa juga berharap peningkatan kapasitas terminal melalui peralatan baru dapat berdampak langsung terhadap layanan receiving dan delivery, termasuk percepatan penanganan peti kemas yang memerlukan pemeriksaan karantina maupun layanan di area CFS.
Bayu menegaskan bahwa keberhasilan transformasi akan diukur dari manfaat yang dirasakan pelanggan terhadap peningkatan kualitas layanan yang diberikan TPS.
"Bagi kami, keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pelanggan merasakan manfaat dari setiap upaya perbaikan yang kami lakukan. Karena itu, prioritas kami berikutnya adalah menghadirkan pengalaman layanan yang lebih baik melalui operasional yang lebih produktif dan efektif," tuturnya.
Selain peningkatan kualitas layanan, kehadiran peralatan baru juga diproyeksikan mendorong pertumbuhan throughput terminal. Untuk mengantisipasi peningkatan arus peti kemas tersebut, TPS telah menyiapkan berbagai langkah mulai dari optimalisasi lapangan, penataan lalu lintas kendaraan, hingga penguatan sistem digital.
Sebagai bagian dari Pelindo Grup, TPS akan terus melanjutkan transformasi operasional melalui peningkatan infrastruktur, digitalisasi layanan, serta penguatan budaya pelayanan yang berorientasi pada pelanggan.
"Selesainya proses peremajaan ini merupakan langkah awal menuju layanan yang lebih baik. Dengan dukungan fasilitas dan peralatan yang telah ditingkatkan serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, TPS siap memberikan layanan yang lebih andal, produktif, dan mendukung kelancaran logistik nasional," pungkas Bayu. (vin)
Editor : Redaksi