suara-publik.com skyscraper
suara-publik.com skyscraper

Eko Gagak Soroti Krisis Kejujuran dan Mentalitas 'Golek Penak e Dewe' di Berbagai Profesi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy

SURABAYA, (suara-publik.com) – Aktivis senior sekaligus kontributor, Eko Gagak, menyoroti maraknya krisis moralitas dan pudarnya integritas yang kini meluas di berbagai profesi di Indonesia. Ia menilai, menguatnya mentalitas 'golek penak e dewe' (mencari enaknya sendiri) telah menjadi ancaman serius bagi runtuhnya kepercayaan publik.

Menurut Eko Gagak, pergeseran motif kerja yang semata-mata berorientasi pada keuntungan pribadi atau kelompok telah mengorbankan prinsip dasar kode etik profesi. Sifat egois, oportunis, dan penyalahgunaan wewenang tersebut ditengarai telah menjalar mulai dari sektor pembuat kebijakan hingga pelayanan publik dasar.

Dalam analisisnya, Eko Gagak memetakan potret mentalitas pragmatis ke dalam beberapa sektor utama, di antaranya:

Sektor Informasi dan Media: Maraknya oknum wartawan mengejar traffic melalui berita sensasional, pemerasan berkedok investigasi demi 'uang damai', hingga tergadaikannya independensi demi pemilik modal.

Sosial Politik: Munculnya fenomena oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau ormas abal-abal yang memanfaatkan isu aksi demo sebagai alat tawar proyek. Selain itu, politisi kutu loncat yang mendekati rakyat hanya menjelang pemilu demi karier personal.

Penegak Hukum: Oknum aparat yang menjadikan pasal legalitas sebagai komoditas transaksional, sehingga hukum terkesan tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta langgengnya praktik pungutan liar.

Pelayanan dan Ekonomi: Oknum pendidik yang menuntut tunjangan penuh tanpa dedikasi mengajar yang sepadan, oknum tenaga kesehatan yang mendahulukan pasien berduit ketimbang pasien darurat jaminan sosial, hingga pelaku ekonomi yang memanipulasi timbangan.

Eko Gagak memaparkan bahwa fenomena ini dipicu oleh nilai ekonomi yang menyita waktu masyarakat, menguatnya individualisme ekstrem, serta prinsip transaksional yang menggerus ketulusan. Dampaknya, rasa kepedulian pudar dan warga menjadi acuh tak acuh terhadap kesulitan sesama.

"Fenomena golek penak e dewe adalah pengingat bahwa krisis moralitas bukanlah soal apa jabatan kita, melainkan hilangnya nilai moral selama dua dekade terakhir yang kalah oleh kenyamanan pribadi. Ketika idealisme kalah oleh pragmatisme materi, maka hancurnya kepercayaan publik adalah harga mahal yang harus dibayar bersama," tegas Eko Gagak dalam keterangannya, Senin (14/9).

Melalui karya-karya opininya yang ditulis tanpa pamrih, Eko Gagak konsisten membidik realitas sosial dengan dialek khas sehari-hari agar mudah dipahami masyarakat. Dalam setiap tulisan kritisnya, ia kerap menggunakan empat pilar karakter metafora, yaitu: tolol, tego, gombal, dan dobbol.

Kombinasi karakter tersebut digunakannya sebagai formula untuk menelanjangi oknum yang membodohi publik, membongkar janji manis, sekaligus menghantam mentalitas ketidakpedulian sosial. Kritik yang dilemparkan oleh Eko Gagak diharapkan menjadi alarm moral bagi publik agar tidak terjebak menjadi pribadi egois yang mengorbankan kepentingan umum. (Red)

Editor :